Subscribe

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, Oktober 19, 2010

Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 3




Imam Kesepuluh: Imam Ali bin Muhammad al-Hadi a s

Ayah: Imam Muhammad bin Ali al-Jawad a s.
Ibu: Sammanah al-Maghribiyah dan ada yang menyebutnya Jumanah.
Tempat dan tanggal lahir: Sharya sebuah desa di dekat kota Madinah pada tanggal 1 atau 2 bulan Rajab dan ada yang mengatakan pada pertengahan bulan Dzul Hijjah tahun 212 atau tahun 214 H.
Wafat: Samurraa’ Irak pada tanggal tiga bulan Rajab tahun 254 H dalam usia 40 atau 42 tahun dan dikebumikan di rumah beliau di kota Samurra’.

Kesaksian Para Ulama Tentang Keutamaan Imam Ali al-Hadi a s

Ibnu Katsir: Adapun Abu al-Hasan Ali al-Hadi, beliau adalah putra Imam Muhammad al-Jawad ...salah seorang imam dua belas, beliau ayah Imam Hasan al-Askari, beliau seorang abid, zuhud. Beliau dipindahkan oleh (Khalifah) Mutawakkil ke kota Samurra’ dan tinggal di sana lebih dari sepuluh tahun.51

Ibnu Shabbagh al-Maliki mengatakan: "Imam setelah Abu Ja`far adalah putra beliau Abu al-Hasan Ali bin Muhammad dikarenakan terkumpulnya ciri-ciri keimamahan padanya, dan dikarenakan sempurnanya keutamaan, dan ilmu beliau, dan dikarenakan tidak ada yang mewarisi kedudukan ayah beliau selain dia, serta karena tetapnya nash penunjukan atasnya dan ayah beliau.”52

Syeikh asy-Syablanji berkata: “Dan kemuliaan beliau banyak sekali, Ibnu Hajar dalam Shawa'iq-nya berkata: ‘Abu al-Hasan alAskari adalah pewaris ayahnya dalam ilmu dan kedermawanan.’”53

Dan cukuplah sebagai bukti kedekatan dan kemuliaan beliau di hati umat kekek beliau Rasulullah saww bahwa ketika al-Mutawakkil al-Abbasi (Khalifah yang dikenal sangat benci kepada keturunan Ali a s mengutus Yahya bin Hartsamah untuk menangkap Imam Ali alHadi a s karena adanya tuduhan bahwa beliau a s mempersiapkan senjata untuk memberontak dan menumbangkan dinasti Abbasiah, Yahya menceritakan: "Dan ketika aku memasuki kota Madinah, penduduknya gempar dan sangat ribut tidak pernah terjadi sepertinya karena khawatir atas keselamatan Ali, dan dunia seakan bangkit di atas kedua kakinya, karena ia sangat baik kepada mereka, senantiasa berada di masjid, tidak memiliki kecenderungan kepada dunia, maka saya tenangkan mereka dan saya bersumpah bahwa saya tidak diperintahkan dengan kejahatan atasnya, ia tidak akan apa-apa, kemudian saya periksa rumahnya maka saya tidak menemukan di dalamnya kecuali mushhaf dan buku-buku do'a dan buku-buku ilmu maka ia menjadi agung di mataku.”54

Ibnu Hajar berkata: “Beliau meninggal di kota Surra Man Ra’a (Samurra’) pada bulan Jumada al-Akhirah tahun 254 H, dalam usia 40 tahun. Mutawakkil memberangkat beliau ke kota tersebut tahun 243H. dan beliau tinggal di sana hingga wafat dengan meninggalkan empat putra dan seorang putri, yang paling agung di antara mereka adalah Abu al-Hasan al-Khalish (Imam Hasan al
Askari). “55

Imam Kesebelas: Imam Hasan al-Askari a s

Ayah: Imam Ali al-Hadi a s.
Ibu: Seorang wanita bangsawan berkebangsaan Romawi bernama Susan atau Haditsah atau Salil.
Tempat dan tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal 10 bulan Rabiutsani tahun 232 H.
Wafat: Samurra' pada tanggal 8 bulan Rabiulawal tahun 260 H dalam usia 25 dan ada yang mengatakan; 28 tahun.

Ibnu Hajar berkata: “Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat karena diracun juga. Beliau tidak meninggalkan anak kecuali putra beliau yaitu Abu al-Qasim Muhammad a-Hujjah, dan usianya ketika ditingal wafat ayahnya adalah lima tahun akan tetapi Allah memberinya al-Hikmah. Beliau digelari dengan al-Qaim al-Muntadzar.56
Beliau dikebumikan di dalam rumah beliau di kota Samurra'.

Sekilas tentang keutamaan Imam al-Hasan al-‘Askari a s

Sibthu Ibn al-Jauzi berkata: “Beliau alim (pandai), terpercaya, meriwayatkan hadis dari ayahnya dari kakeknya.”57

Ibnu Shabbagh al-Maliki berkata: “Imam setelah Abul-Hasan Ali bin Muhammad adalah putra beliau Abu Muhammad al-Hasan, dikarenakan terkumpulnya karakter kemuliaan padanya, mengungguli orang-orang sezamannya dalam hal yang menyebabkan kelayakan dalam imamah dan mengungguli mereka dalam ilmu wara’, zuhud, kesempurnaan akal dan banyaknya amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, lalu dikarenakan nash penunjukan atas beliau dan isyarat kekhilafahan untuknya.” 58

Ibnu Shabbagh juga mengatakan: “Keutamaan Sayyidina Hasan Al-‘Askari menunjukkan bahwa beliau benar-benar putra Imam al-Hadi, tiada diragukan akan keimamahan beliau ....Beliau yang tunggal di zamannya tiada tertandingi, sangat khas tiada tersaingi, beliau tuan orang-orang di zamannya, imam mereka, ucapan-ucapan beliau lurus, pekerjaan beliau terpuji.... Beliau pendekar ilmu yang tak terlawan, penjelas kerumitan-kerumitannya tanpa tertandingi, penyingkap hakikat-hakikatnya dengan pandangan yang tepat....”59

Asy-Syablanji berkata: “keutamaan beliau banyak sekali. Kemudian ia menyebutkan kisah yang terjadi ketika Imam al-‘Askari masih kecil dengan seorang sufi yang bernama Buhlul.”60

Kisah Imam al-‘Askari dengan Buhlul

Asy-Syablanji dan Ibnu Hajar menyebutkan kisah tersebut sebagai berikut:
Pada suatu ketika, Buhlul melihat Imam -ketika itu masih kanak-kanak- sedang menangis sementara anak-anak lainnya bermain, lalu Buhlul mengira bahwa beliau menangis karena sedih tidak memiliki mainan yang ada pada mereka, maka Buhlul berkata kepada beliau: “Maukah kamu saya belikan mainan yang dapat kamu pakai bermain?” Maka Imam menjawab: “Hai Anda, yang sedikit akalnya, kita tidak diciptakan untuk bermain-main. “Buhlul bertanya: “Lalu untuk apa kita diciptakan?” Beliau menjawab: “untuk ilmu dan ibadah.” Ia betanya kembali: “dari manakah kamu mengatakan itu?” Imam menjawab: “Dari firman Allah;
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. al-Mu’minun; 115 )
Kemudian Buhlul meminta agar dinasehati, maka beliau menasehati dengan bait-bait syair kemudian beliau jatuh pingsan, lalu ketika sadar atau siuman, Buhlul berkata: “Apa sebenarnya yang sedang menimpa Anda, sedangkan Anda masih kecil, tiada dosa atasmu?” Beliau menjawab: “Menyingkirlah dariku wahai Buhlul! Sesungguhnya aku menyaksikan ibuku menyalakan api dengan kayu besar maka ia tidak menyala kecuali dengan kayu kecil, maka saya takut menjadi kayu neraka Jahannam yang kecil.” 61

Ketika Imam al-‘Askari a s dipenjarakan oleh Khalifah zamannya, datanglah beberapa orang dan keluarga Bani Abbas memerintah kepada Saleh bin Washif—penjaga rumah tahanan—agar mengintimidasi dan memperkejam perlakuannya, Saleh menjawab: ”Apa yang harus saya perbuat, saya telah perintahkan dua orang yang paling jahat yang aku kenal, tapi keduanya malah menjadi orang saleh yang senatiasa beribadah; menegakkan salat, berpuasa. “Kemudian ia meminta agar keduanya dihadirkan, lalu ia berkata kepada mereka: “Celakalah kalian, ada apa kalian dengannya?” Mereka berdua menjawab: “Apa yang hendak kami katakan tentang seseorang yang siangnya berpuasa dan malamnya berdiri menegakkan shalat, tidak berbicara dan sibuk selain dengan ibadah, jika kita melihatnya kita gemetar dan terserang rasa haibah sehingga kita tidak mampu menguasai diri kami.” 62

Berita Wafat Imam Hasan al-‘Askari

Asy-Syablanji berkata: “Dalam al-Fushul al-Muhimmah disebutkan: ‘Ketika berita wafat beliau tersebar gemparlah kota Samurra’ dan terjadilah jeritan serempak, pasar-pasar libur, toko-toko tutup, keluarga besar Bani Hasyim, para pejabat dan seluruh manusia pergi melayat jenazah beliau, Kota Samurra’ hari itu seakan kiamat.’”63

(bersambung)

Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 2






Imam Keenam: Imam Ja’far ash-Shadiq a s

Ayah: Imam Muhammad al-Baqir a s.
Ibu: Fatimah—putri—al-Qasim bin Muhammad putra Abu Bakar.
Tempat dan tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal sepuluh bulan Rabiulawal tahun 83 H.
Wafat: Di Madinah pada tanggal dua puluh lima bulan Syawal tahun 148 H dalam usia 65 tahun dan ada yang mengatakan dalam usia 68 tahun akibat diracun dan meninggalkan enam orang putra dan satu anak perempuan.
Beliau dikebumikan di pemakaman al-Baqi’.

Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Ja’far ash-Shadiq a s

Ibnu Hajar berkata: "Dan manusia telah menukil dari beliau berbagai ilmu dan nama harum beliau tersebar di seantero negeri, para ulama besar seperti Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Malik, Sufyan bin Uyainah, ats-Tsauri, Abu Hanifah, Syu'bah, dan as-Sakhtiyani meriwayatkan hadis dari beliau. 19

Abu Hanifah mengatakan kalau bukan karena dua tahun ia belajar dari Imam Ja`far niscaya ia binasa:

“Kalau bukan karena dua tahun pasti binasalah Nu'man (Abu Hanifah).”
Kesaksian Para Ulama
Selain apa yang disampaikan oleh Abu Hanifah dan Ibnu Hajar, kita akan menemukan banyak kesaksian para Ulama akan keagungan kepribadian dan keilmuan Imam Ja`far ash-Shadiq a s.
Khalifah al-Manshur berkata: “Sesungguhnya Ja’far adalah dari mereka yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:
Kemudian Kami wariskan al-Kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,..." (QS. Fathir: 32)
Ia termasuk dari mereka yang dipilih Allah dan orang-orang yang bercepat-cepat kepada kebaikan.20
Imam Malik bin Anas berkata: “Ja’far bin Muhammad, aku selalu mendatanginya dalam waktu yang sangat panjang, dan aku tidak menemuinya kecuali dalam salah satu dari tiga keadaan; menunaikan salat atau berpuasa atau membaca al-Qur’an.”21
Ia juga berkata: “Mata tiada akan pernah memandang, telinga tiada akan mendengar dan tiada akan pernah terlintas dalam pikiran manusia ada seseorang yang lebih mulia dari Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq dalam ilmu, ibadah, dan wara’ (kehati-hatian dalam beragama).”
Amr bin Migdam berkata: “Aku apabila memandang Ja’far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah dari keturunan para Nabi.”22
Asy-Syahrastani berkata: “Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, ia memiliki ilmu yang melimpah, aturan (hidup) yang sempurna dalam hikmah dan kezuhudan terhadap dunia dan wara’ yang sempurna dari syahwat, beliau tinggal dalam waktu yang lama dikota Madinah memberi pengajaran (pendidikan) kepada para pengikutnya dan menuangkan kepada para pendukung (kepemimpinannya) rahasia-rahasia ilmu-ilmu.”23
Al-Jahidh berkata: “Ja’far bin Muhammad, yang telah memenuhi dunia dengan pengetahuan dan fiqihnya, dikatakan bahwa Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri termasuk murid beliau, dan itu sudah cukup sebagai bukti kebesarannya.”24

Ibnu Khallikan berkata tentang Imam Ja’far: “Beliau dari tokoh ahlulbait, digelari ash-Shadiq kareka kejujuran ucapannya, keagungannya lebih masyhur untuk disebut-sebut, beliau memiliki teori tentang kimia,... dan Abu Musa Jabir bin Hayyan ath-Thusi adalah murid beliau, ia menulis buku sebesar seribu halaman yang memuat risalah-risalah (karangan) Ja`far ash-Shadiq, ia adalah lima ratus risalah.”25

Kamaluddin Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'i berkata: “Ja’far bin Muhammad, beliau termasuk Ulama dan pembesar ahlulbait, memiliki ilmu yang banyak, ibadah yang berlimpah, wirid yang bersambung, kezuhudan yang nyata, bacaan (Al-Qur'an) yang banyak, beliau menelusuri makna-makna Al-Qur’an dan mengeluarkan permata-permata dari lautannya dan menyimpulkan keajaiban-keajaibannya. Beliau membagi waktu-waktu beliau dengan berbagai ketaatan dan mengintrospeksi diri atasnya, memandang wajah beliau mengingatkan akan akhirat, mendengar ucapan beliau menjadikan zuhud kepada dunia, mengikuti petunjuk beliau menyebabkan masuk surga, cahaya wajah beliau saksi bahwa beliau dari keturunan kenabian, dan kesucian tindakan beliau bukti bahwa beliau dari keluarga kerasulan, para ulama seperti Yahya bin Sa`id al-Anshari....menukil hadis dan mengambil ilmu dari beliau dan mereka menganggapnya sebuah kemuliaan bagi mereka.26

Dalam Tadzkirah al-Huffadz27 disebutkan dari Salih bin Abil Aswad ia berkata: “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata: ‘Tanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku, karena tidak ada yang menyampaikan hadis sepeninggalku seperti hadisku.”
Syeikh al-Mufid berkata: “Dan para ahli hadis telah mendata nama-nama para perawi yang menukil dari beliau, dari berbagai golongan dan madzhab, maka jumlah mereka mencapai empat ribu murid.”28
Hasan bin Ali al-Wasysya’ berkata: “Saya menemui di masjid ini (kota Kufah) sembilan ratus syeikh semuanya berkata; ‘Ja’far bin Muhammad menyampaikan hadis kepadaku....’”29

Imam Ketujuh: Imam Musa al-Kadzim a s

Ayah: Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as.
Ibu: Hamidah al-Mushaffah.
Tempat atau tanggal lahir: Abwaa' (sebuah desa antara kota Mekah dan Madinah) pada tanggal tujuh bulan Shafar tahun 128 H.
Wafat: Baghadad pada tanggal 25 bulan Rajab tahun 183 H. dalam usia lima puluh lima tahun dan meninggakan tiga puluh tujuh anak.
Beliau dikebumikan di kota al-Kadzimiyah sebelah barat kota Baghdad di pemakaman Quraisy.

Sekilas Tentang Keutamaan Imam Musa al-Kadzim a s

Ibnu Hajar berkata: "Musa al-Kadzim beliau adalah pewaris ayahnya dalam ilmu, makrifat, kesempurnaan dan keagungan, beliau digelari al-Kadzim karena banyak memaafkan kesalahan orang dan sabar. Beliau dikenal di kalangan penduduk Irak sebagai pintu pemenuhan hajat di sisi Allah SWT. Beliau paling abid (tekun beribadah), paling alim (pandai) dan paling dermawan di antara ahli zamannya."

Adz-Dzahabiberkata: “(Beliau) Abu al-Hasan al-Alawiy adalah imam, teladan, Imam Ali bin Musa ar-Ridha, warga Madinah yang tinggal di kota Bahgdad." 30
Dalam Mizan al-I'tidaal, ia berkata: “Musa adalah paling bijaknya orang bijak (hukama') dan paling takwanya hamba Allah.”31

Al-Khathib al-Bahgdadi berkata: “Musa dijuluki hamba saleh dikarenakan kesungguhannya dalam beribadah.... Beliau sangat dermawan, pada suatu hari sampai kepada beliau dari seseorang bahwa ia menyakitinya, lalu beliau mengirimkan kepadanya satu kantong uang berisikan seribu dinar (uang emas)....”
Beliau menetap di kota Madinah lalu dipaksa pindah oleh al-Mandi (salah seorang Khalifah dinasti Abasiyah) ke kota Bahgdad, lalu ia (al-Mandi) bermimpi melihat Ali bin Abi Thalib r a sambil membaca ayat: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berhuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS. Muhammad: 22) maka ia membebaskan beliau.32 Kemudian beliau menetap di kota Madinah sampai zaman Harun ar-Rasyid, maka ketika Harun ar-Rasyid dalam perjalanan pulang dari umrah di bulan Ramadhan tahun 179 H, ia membawa Musa bersamanya ke Baghdad dan memenjarakannya hingga wafat di dalam penjara.33

Ibnu Hajar dalam Shawa'iq-nya menyebutkan sebab pemenjaraan tersebut, ia berkata: Dan ketika beliau bertemu dengan Harun arRasyid di hadapan kuburan Rasulullah Saww, Rasyid berkata: “Salam atasmu wahai anak paman”34 ucapan itu didengar oleh orang-orang di sekitarnya, maka al-Kadzim mengucapkan salam kepada Rasulullah saww dengan mengucapkan: “Salam atas Anda wahai ayah “ucapan itu tidak sanggup didengar oleh Rasyid, dan menjadikan sebab penangkapan beliau dan dibawa ke Bahgdad kemudian memenjarakannya, dan beliau. tidak keluar dari penjara kecuali dalam keadaan mayyit dan terikat, beliau dikebumikan di barat kota Baghdad. 35

Ibnu Shabbagh al-Maliki berkata: "sekelompok ulama berkata; ‘al-Kadzim adalah imam yang besar kedudukannya, tunggal (tiada tandingan) hujjah dan tokoh, yang menghidupkan malamnya dengan beribadah dan siangnya dengan berpuasa, beliau di juluki al-Kadzim karena sangat sabar dan pemaaf. Beliau dikenal di kalangan penduduk kota Baghdad dengan julukan pintu penyampaian hajat kepada Allah karena selalu menyelesaikan kebutuhan kaum Muslimin....’” Beliau, Musa al-Kadzim paling tekunnya ahli zamannya dalam ibadah, paling pandai, paling dermawan, dan paling mulia. 36

Imam Kedelapan: Imam All ar-Ridha a s

Ayah: Imam Musa al-Kadzim a s.
Ibu: Ummu al-Banin bernama Najmah dan ada yang mengatakan nama ibu beliau adalah Takattum.
Tempat atau tanggal. lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal sebelas bulan Zulkaidah tahun 148 H.
Wafat: Kota Thuus, Khurasan, Iran (kota Masyhad sekarang) pada tanggal tujuh belas bulan Shafar tahun 203 H dalam usia 55 tahun dan meninggalkan lima putra dan satu putri.
Beliau dikebumi.kan di kota Thuus (Khurasan-Masyhad).

Sekilas Tentang Keutamaan Imam Ali ar-Ridha a s

Ketika menyebut purta-putra Imam al-Kadzim a s lbnu Hajar berkata: “Di antara mereka adalah Ali ar-Ridha, beliau adalah paling tersohor beritanya dan paling agung kemuliaanya.”37
Dalam Tandzib at-Tandzib 38 disebutkan; ar- Ridha adalah salah seorang ahli ilmu dan pemilik keutamaan di samping keagungan nasab (keturunan).
Adz-Dzahabi berkata: "Al-Imam as-Sayyid Abu al-Hasan Ali arRidha....beliau adalah ahli ilmu, pemegang teguh agama dan pemilik keagungan dalam kepribadian yang luar biasa, beliau telah berfatwa dalam usia muda di masa hidup Imam Malik..”39
Dalam kesempatan lain ia mengatakan: “Ali ar-Ridha adalah sangat agung, layak sebagai Khalifah....”40
Ibrahim bin Abbas al-Adib berkata: “Aku tidak pernah menyaksikan ar-Ridha ditanya tentang sesuatu apapun kecuali beliau mengetahuinya. Aku tidak menyaksikan seseorang yang lebih pandai darinya tentang apa yang ada di masa lampau sampai zamannya, (Khalifah) al-Makmun mengujinya dengan pertanyaan maka beliau menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan. Beliau sedikit tidur banyak berpuasa....banyak kebaikannya dan bersedekah terutama dimalam-malam gelap gulita.”

Raja’ bin Abi adh-Dahhak—yang ditugasi oleh Makmun untuk mengawal Imam ar-Ridha a s dalam perjalanan dari Madinah hingga Khurasan, ibu kota pemerintahan Makmun—menceritakan keagungan Imam Ridha as: “Demi Allah, saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih takwa kepada Allah, lebih banyak berzikir dalam setiap waktunya dan lebih takut kepada Allah Azza wa Jalla darinya. Beliau tidak singgah di sebuah kota kecuali dituju oleh manusia menanyakan tentang ajaran agama mereka maka beliau menjawab pertanyaan mereka dan menyampaikan banyak hadis dari ayah-ayah beliau dari Ali dari Rasulullah saww. Dan ketika saya sampai dan menjumpai al-Makmun, beliau bertanya kepadaku tentang keadaannya (ar-Ridha), saya beritahukan kepadanya apa yang saya saksikan di malam dan siangnya.... Maka al-Makmun berkata: ‘Benar wahai Ibnu Abi adh-Dhahhak, ia adalah sebaik-baik penduduk bumi, paling pandai, dan paling tekun beribadah.’”41

Hadis Silsilah adz-Dzahab

Sejarah mencatat betapa dikenalnya Imam Ali ar-Ridha a s dan dielu-elukan oleh umat kakek beliau saww, hal itu terlihat dalam perjalanan beliau menuju kota Khurasan, ketika beliau melewati kota Naisyabur—kota ilmu dewasa itu. Di sebutkan dalam Tarikh Naisyabur, sebagaimana dikutip Ibnu Shabbagh al-Maliki dalam alFushul al-Muhimmah; Sesungguhnya Imam ketika memasuki kota Naisyabur dalam perjalan beliau ke Maru (Khurasan), beliau berada di sebuah qubah tertutup menunggang kuda hitam, maka dua imam dan hafidz hadis-hadis Nabi saww yang tekun memburu hadis; Abu Zar’ah ar-Razi dan Muhammad bin Aslam ath-Thusi bersama banyak pelajar dan ulama hadis, mereka berdua berkata: “Wahai tuan yang mulia dan putra para imam, demi hak ayah-ayah Anda yang suci dan sesepuh Anda yang mulia, kami memohon agar Anda berkenan menampakkan wajah mulia nan penuh berkah Anda dan riwayatkan untuk kami hadis dan ayah-ayah Anda dari Rasulullah saww yang kami dapat selalu mengingat Anda dengannya.”

Maka beliau memberhentikan kendaraan beliau dan memerintahkan para pembantu agar membuka tirai dan qubah itu dan beliau menggembirakan mereka dengan memperlihatkan wajah beliau yang penuh berkah dan mereka semuanya berdiri sesuai dengan kedudukan masing-masing memandang beliau, di antara mereka ada yang menjerit, menangis, dan ada yang bergulung-gulung di tanah, ada yang menciumi kaki kuda beliau, suarapun menjadi ramai maka para ulama dan fuqaha meminta mereka tenang;

“Wahai manusia dengarkan dan perhatikan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian, dan jangan ganggu kami dengan suara tangis dan jeritan histeris kalian,” lalu Imam Ali ar-Ridha menyampaikan hadis, beliau berkata; “Ayahku Musa al-Kadzim mengabarkan kepadaku dan ayah beliau Ja’far ash-Shadiq dan ayah beliau Muhammad al-Baqir dari ayah beliau Ali Zainal Abidin dan ayah beliau Husain Syahid di tanah Karbala dan ayah beliau Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya beliau berkata; ‘kekasih dan kecintaanku Rasulullah saww mengabarkan kepadaku, beliau bersabda; mengabarkan kepadaku, ia berkata; ‘Aku mendengar Tuhan pemilik kemuliaan Allah SWT berfirman:
"Kalimat "lailaha illallah" (tiada Tuhan selain Allah) adalah benteng-Ku maka barang siapa mengucapkannya ia masuk ke bentengKu dan barang siapa masuk ke benteng-Ku ia aman dari siksa-Ku."

Kemudian beliau menutup kembali tirai tersebut dan melanjutkan perjalanan....maka para ulama dan ahli tulis menghitung mereka yang mencatat, jumlah mereka dua puluh ribu orang.’” 42
Imam Ahmad bin Hambal berkata: Andai nama-nama suci dalam sanad hadis itu dibacakan atas orang gila pasti ia akan sembuh.43
Abu Nu'aim berkata setelah meriwayatkan hadis di atas: Ini adalah hadis yang masyhur dengan sanad (jalur) tersebut dari riwayat orang-orang suci dari ayah-ayah mereka yang suci, dan sebagian salaf kami (Ahmad —maksudnya) mengatakan ketika ia meriwayatkan dengan sanad itu: Ini adalah sanad jika dibacakan atas seseorang yang gila pasti ia akan sembuh.44

Imam Kesembilan: Imam Muhammad al-Jawad a s

Ayah: Imam Ali ar-Ridha a s.
Ibu: Sabikah dari keluarga Mariyah al-Qibthiyah salah seorang istri Nabi Muhammad saww.
Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal sepuluh bulan Rajab tahun 195H.
Wafat: Baghdad pada awal bulan Zulkaidah dan ada yang mengatakan tanggal lima bulan Zulhijah tahun 220 H dalam usia 25 tahun dan dikebumikan dipemakaman Quraisy di kota Kadzimiyah.

Sekilas Tentang Keutamaan Imam Jawad as

Ibnu Hajar berkata: “Imam Ali ar-Ridha wafat meninggalkan lima orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yang paling mulia adalah Muhammad al-Jawad, akan tetapi beliau tidak panjang usianya.”45
Sibthu Ibn al-Jauzi berkata: “Beliau sesuai dengan jalan hidup ayah beliau dalam keilmuan, ketakwaan, kezuhudan, dan kedermawanan."46
Ibnu Thalhah asy-Syafi'i: Dia adalah Abu Ja’far ats-Tsani (kedua)47 ....Beliau walau masih kecil usianya namun agung kemutamaannya, tinggi sebutannya. Yang memikul imamah sepeninggal Ali bin Musa ar-Ridha adalah putra beliau; Abu Ja’far al-Jawad berdasarkan penunjukan dari ayah beliau, seperti dikhabarkan sekelompok tokoh yang terpercaya dan adil, demikian dikutip oleh Ibnu Shabbagh al-Maliki.48
Mahmud bin Wahab al-Baghdadi al-Hanafi berkata: "Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha, kunyahnya adalah Abu Ja’far beliau pewaris ilmu dan kemuliaan ayah beliau dan paling mulia kedudukan dan kesempurnaannya di antara saudara-saudaranya."49

Ibnu Hajar dan asy-Syablanji juga menyebutkan bahwa beliau menjawab seluruh pertanyaan yang dipersiapkan oleh Yahya bin Aktsun di hadapan Khalifah al-Ma’mun dan para Ulama atas perintah sekelompok orang dari Bani Abbas dengan tujuan memojokkan Imam al-Jawad a s dan bagaimana ketidakmampuan Yahya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Imam al-Jawad a s kepadanya, sehingga ia malu dan pucat, kemudiam Ma’mun berkata: Sesungguhnya anggota keluarga rumah itu telah di beri keistimewaan dengan apa yang kalian telah saksikan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya, dan sesungguhnya muda usia pada mereka tidaklah menjadi penghalang dari kesempurnaan ....50

(bersambung)

Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 1




Bismihirahhmanirrahim



Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as)

Telah lewat disebutkan bahwa Nabi saww telah memberi berita gembira akan kedatangan dua belas imam dan khalifah yang akan memimpin umat Islam, dan telah kita saksikan pula bagaimana kerancuan penafsiran ulama Ahlusunah tentangnya.

Dari sekian banyak tafsiran terhadap hadis-hadis tentang adanya dua belas imam yang jumlahnya sangat banyak dan sahih itu hanya tafsiran pengikut ahlulbait-lah yang sesuai dan tepat, sebab:

Pertama: Hanya tafsiran Syiah yang sesuai dalam jumlah sebagaimana yang disebut dalam hadis-hadis tersebut.
Kedua: Adanya kesinambungan dan kebersambungan mata rantai kepemimpinan, sementara dalam tafsiran-tafsiran lain kita melihat adanya keterputusan atau bahkan pemaksaan.
Ketiga: Kelayakan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh nama-nama yang disebutkan dalam penafsiran lain.
Kempat: Tafsiran Syiah didukung oleh riwayat-riwayat lain yang menyebut nama-nama mereka satu persatu.

Dan yang juga perlu kita ketahui bersama bahwa para imam ahlulbait a s adalah pribadi-pribadi yang telah dikenal dan diakui keunggulan dan kelebihannya baik oleh mereka yang simpatik dan mengakui keimamahan mereka maupun oleh lawan dan mereka yang tidak mengakui imamah mereka. Para imam ahlulbait a s bukan pribadi-pribadi yang asing di kalangan masyarakat Islam umumnya dan kalangan ulama khususnya.
Kesaksian ulama Islam dari berbagai mazhab dan aliran adalah bukti nyata kelebihan dan imamah mereka.

Di bawah ini kami sebutkan data ringkas para Imam suci AhlulBait as. 1

Imam Pertama: Ali bin Abi Thalib as

Ayah: Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf.
Ibu: Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf.
Tempat atau tanggal lahir: Mekah al-Mukarramah (di dalam Ka'bah) pada hari Jumat tanggal tiga belas bulan Rajab, tiga puluh tahun sebelum kenabian.
Wafat: Beliau syahid dikota Kufah pada tanggal dua puluh satu bulan Ramadhan tahun empat puluh H. dalam usia enam puluh tiga tahun setelah dipukul dengan pedang oleh Abdurrahman bin Muljam dan dikebumikan di Kufah.

Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Ali a s

Para Ulama menegaskan bahwa tiada seorang dari sahabat Nabi saww yang memiliki keutamaan yang disebut dalam hadis-hadis Nabi saww yang sahih lebih dari Ali a s.
Dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud menyebut hadis-hadis tentang keutamaan beliau, sebab hal itu membutuhkan berjilid-jilid kitab, namun saya hanya bermaksud menyebut sekelumit keutamaan yang masyhur yang telah disebut dalam hadis-hadis Nabi saww.
Imam Ali as adalah pribadi pertama yang beriman dan memeluk Islam setelah istri Nabi saww Khadijah as. Kedudukan beliau di sisi Nabi saww bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa as bahkan beliau adalah bagaikan jiwa Nabi sendiri seperti ditegaskan dalam ayat al-Mubahalah.
Imam Ali adalah Wali setiap mukmin dan mukminah sepeninggal Nabi saww.
Beliau adalah Washi dan Khalifah Nabi Muhammad saww, pewaris dan pengemban amanat Risalah.
Beliau adalah ash-Shiddiq al-Akbar dan Faruq yang memilah antara hak dan batil, kecintaan kepadanya adalah tanda keimanan dan kebencian kepadanya adalah bukti kemunafikan, membencinya berarti membenci Allah dan Rasul-Nya, mencacinya berarti mencaci Allah dan Rasul-Nya dan memeranginya berarti memerangi Allah dan Rasul-Nya.
Ali bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an bersama Ali
Pribadi agung yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Sahabat Nabi saww terpandai dan pintu kota ilmu Nabi saww penjelas apa yang diperselisihkan oleh umat sepeninggal Nabi saww.
Pribadi yang paling berjasa dalam menegakkan agama Islam dan pembelaannya dalam berbagai pertempuran melawan kekafiran tidak dapat dipungkiri; di Badr, Uhud, Khaibar, Hunain dan lain sebagainya.

Di bawah ini kami kemukakan kemampuan Imam Ali a.s. sebagaimana yang dikuatkan oleh nash-nash hadis yang sahih.

Rasulullah saww. berkata, "Perumpamaan Ali bagi kamu sekalian adalah ibarat Ka’bah….”
(Jalaluddin Al-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa’, jilid I, halaman 96; Ibnu ‘Asakir dari hadis Abu Bakar, Utsman, Aisyah, dll. Hadis ini di-takhrij pula oleh Al-Kanaji dalam Al-Kifayah, dan Al-Khawarizmi dalam Al-Manaqib.

Apabila Ka'bah bisa menyatukan kiblat umat saat mereka menghadap kepada Allah SWT dalam shalat atau ketika menunaikan rukun-rukun haji dan ‘umrah, maka demikian pulalah yang dilakukan oleh Ali dan ajarannya yang diambil oleh banyak orang di Dunia Islam.

Imam Ali adalah jalan lurus (Shirath A I-Mustaqim), yang darinya umat menimba ilmu Ilahi dan pengetahuan dalam menentukan syariat sesudah Rasulullah saww., tanpa ada orang lain yang memilikinya.

Rasulullah saww. mengatakan, "Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas bagi umatku sesudahku, tentang agama yang untuk itu aku diutus. Mencintainya adalah iman, dan membencinya adalah kemunafikan." (Hadis ini di-takhrij oleh Abu Na'im dalam Hilyat Al-Auliya’, dan diriwayatkan oleh Al-Dailami dalam Firdaus Al-Akhbar; AI-Hamawaini dalam AlFara’id, dll.)

Rasulullah Saaw. mengatakan pula, "Aku adalah gudang ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya.... " (Hadis ini di-takhrij oleh Ahmad bin Hanbal, dan Al-Tirmidzi dalam jami’ Al-Shahih-nya. Dikutip dari Muhammad Al-Ghumari, Fath AI-Muluk Al’Aliy bi Shihhat bob Madinat Al’ilm 'Ali, cetakan kedua, 1969).
Ali persis Rasulullah saww. dalam menegakkan keadilan di tengah manusia. Telapak tangannya sama dengan telapak tangan beliau. Rasulullah saww. mengatakan, “Wahai Abu Bakar, tanganku dan tangan Ali, dalam menegakkan keadilan, adalah sama.” (Hadis ini di-takhrij oleh Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’; Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Al-Kabir-nya, dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Manaqib-nya. Dikutip dari Maqam Amir Al-Mu’minin, halaman 12.)

Rasulullah mengatakan bahwa Ali a.s. adalah sama dengan diri beliau. Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad-nya, meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Khanthab, katanya, “Rasulullah saww. berkata kepada utusan Bani Tsaqif ketika menghadap kepada beliau, 'Anda boleh memilih, menyerah atau saya akan kirim seorang laki-laki yang seperti aku untuk memerangi Anda sekalian, menawan anak-isteri Anda, dan merampas harta Anda (kemudian beliau berpaling kepada Ali, lalu memegang tangannya), lalu berkata, ’inilah orang yang saya katakan itu. Inilah orang yang saya katakan itu. (Hadis ini di-takhrij oleh Ibnu Hanbal dalam Al-Manaqib, dan Abu Na’im dalam Hilyat; Al-Tirmidzi, dll)

Imam Ali a.s. adalah orang yang paling tahu secara lengkap masalah-masalah hukum sesudah Rasulullah saww. Anas bin Malik mengatakan, “Rasulullah saww. berkata, “Yang paling tahu tentang hukum di antara umatku, adalah Ali” (Lihat Al-Riyadh .A1-Nadhrah,jilid II, hal. 198. Juga Al-Kanaji Al Syafi’i, Al-Kifayah; Ibn Al-Shabagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, dan Al-Baladzuri, Ansab Al-Asyraf. Dikutip melalui Maqam Amir AlMu'minin, hal 32.)

Hadis tersebut di atas mengisyaratkan bahwa, Imam Ali a.s. adalah orang yang paling cakap dalam mengurus persoalan umat dan memutuskan persengketaan mereka ketimbang orang lain.

Rasulullah saww. berkata, “Ali bersama kebenaran (haq), dan kebenaran (haq) bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga dikembalikan ke telaga (Al-Haudh) di hari Kiamat.” (Al-Khatib Al-Baghdadi, Tarikh Al-Kabir, jilid IV, hal. 321; Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa Al-Siyasah; Ibn Sa’ad, Kunz Al-'Ummal; Al-Zamakhsyari, Rabi’ Al-Abrar; Al-Hamawaini, Al-Farald, dll. Dikutip dari 'Ali wa Al-Washiyyah, hal. 113.)


Sepanjang Imam Ali a.s. adalah pemelihara kebenaran yang dengan itu Allah SWT memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya, maka keduanya (Ali dan kebenaran) tidak bisa dipisahkan. Rasulullah Saaw. mengajak umatnya untuk mengikuti manhaj-nya dan berpijak secara teguh pada langkahnya agar selamat dari kesesatan dan tidak mengikuti jalan-jalan lainnya, sehingga menyimpang dari jalan Allah SWT. Rasulullah saww. mengatakan, “Akan muncul sesudahku fitnah. Kalau masa itu sudah tiba, maka ikutilah Ali bin Abi Thalib. Sebab, dia adalah orang pertama yang melihatku dan bertemu denganku di hari Kiamat. Dia merupakan bagian dari diriku di langit yang tinggi, dan dia adalah pembeda yang haq dari yang bathil.” (Lihat Al-Kanaji AI-Syafi'i, Al-Kifayah, dan Al-Hafizh dalam 'Amali-nya, dll. Untuk referensi lebih jauh, baca Najmuddin Al-Askari, ‘Ali wa Al-Washiyyah, hal. 167.)

Adapun tentang keimanan Imam Ali a.s. Rasulullah saww. mengatakan, “Kalau seandainya langit dan bumi ini merupakan dua tempat yang berada di satu tangan, dan keimanan Ali berada di tangan yang lain, niscaya (timbangan) iman Ali lebih berat (daripada langit dan bumi).” (Hadis ini di-takhrij oleh Al-Dailami dari Ibnu ‘Umar. Lihat Kanz Al-Ummal, jilid VI, hal. 156, dan Riyadh Al-Nadhrah, jilid II, hal. 226. di-takhrij dari Umar ibn Al-Khaththab. Dinukil dari Maqam Amir Al- Mu’minin hal. 15.)
Itulah beberapa keistimewaan Imam All a.s. sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saww.

Dan selain yang kami sebut masih banyak keutamaan lain yang dapat Anda jumpai dalam kitab-kitab ulama Islam yang berbicara tentang keutamaan Imam Ali a s.
Imam Ahmad dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlul-Bait dan keutamaan Ali bin Abi Thalib a s. Abdullah, putra Imam Ahmad, pernah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: “Tidak ada seorang pun di antara para Sahabat yang memiliki fadha’il (keutamaan) dengan sanad-sanadnya yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib.”

Menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat paling utama adalah keyakinan Syi’ah. Begitu anggapan umum waktu itu. Orang membuktikan ke-Syi’ahan seseorang dengan menanyakan siapa yang paling utama di antara para sahabat. Ahlus-Sunnah akan menyebut dengan urutan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan seterusnya. Sedangkan Syi’ah akan memulai urutan sahabat itu dari Ali. Pada suatu kali, Abdullah bin Ahmad bin Hambal menanyai ayahnya, “Bagaimana pendapat Anda tentang tafdhil (urutan keutamaan) sahabat?” Ahmad bin Hambal menjawab, “Dalam- khilafah: Abu Bakar, Umar, Utsman.”
“Lalu bagaimana dengan Ali?” tanya Abdullah.
“Wahai anakku,”• kata Ahmad bin Hambal, “Ali bin Abi Thalib termasuk ahlul-bait dan orang tidak dapat diperbandingkan dengan mereka!”

Pada kali yang lain, serombongan orang datang menyelidik, “Hai Abu Abdullah, bagaimana pendapat Anda tentang hadis -Ali pembagi neraka?”
Ahmad :Lalu apa yang kalian tolak? Bukankah Nabi s.a.w. pernah berkata kepada “Tidak mencintaimu kecuali mukmin, dan tidak membencimu kecuali munafik.”
Orang-orang :Betul (nabi berkata begitu).
Ahmad :Di mana orang mukmin menetap?
Orang-orang :Di surga.
Ahmad :Di mana orang munafik menetap?
Orang-orang :Di neraka.
Ahmad :Kalau begitu, Ali adalah pembagi neraka.

Pernyataan-pernyataan Imam Ahmad inilah yang memperkuat tuduhan Syi’ah kepadanya. Bukankah Syi’ah adalah mazhab yang mengikuti ahlul-bait - dengan Ali sebagai rujukannya. Lagi pula Ahmad bin Hambal banyak meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang bermazhab Syi’ah. Salah seorang gurunya yang dihormatinya adalah Abdurrahman bin Shalih, seorang Syi’ah. Ahmad bin Hambal diperingatkan untuk tidak bergaul dengannya. Tetapi ia membentak, “Subhanallah, kepada orang yang mencintai keluarga suci Nabi kita berkata - jangan mencintainya? Abdurrahman bin Shalih adalah tsiqat (orang yang dapat dipercaya).”

Tuduhan Syi’ah terhadap Ahmad bin Hambal ini untungnya tidak berakibat parah. Rumahnya digeledah dan ditinggalkan Ahmad bin Hambal tetap mengajar seperti biasa. Lain dengan Imam Syafi'i. Beliau beserta tiga ratus orang Quraisy diseret dalam keadaan terbelenggu dari Yaman (menurut suatu riwayat, dari Makkah) ke Baghdad. Mereka dihadapkan kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Seorang demi seorang dipancung di depan Khalifah. Imam Syafi’i selamat, setelah ia mengucapkan salam kepada Harun Al-Rasyid. Ia sempat menasihati raja dan membuatnya menangis. Begitu, kata sahibul-hikayat. Kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi, karena riwayat mihnah Imam Syafi’i ini bermacam-macam. Yang disepakati ialah kenyataan bahwa salah satu tuduhan kepada Imam Syafi’i ialah bahwa ia Syi’ah.

Imam Kedua: Imam Hasan bin Ali as

Ayah : Imam Ali a s.
Ibu: Fatimah az-Zahra' putri Rasulullah saww.
Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada malam pertengahan bulan Ramadhan tahun dua H.
Wafat: Di Madinah pada tanggal tujuh bulan Shafar tahun 50 H dalam usia 48 tahun dan dikebumikan di pemakaman al-Baqi’ Madinah.

Imam Ketiga: Imam Husain a s

Ayah: Ali bin Abi Thalib a s.
Ibu: Fatimah az-Zahra' putri Rasulullah saww.
Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal tiga bulan Ramadhan tahun ketiga H.
Syahadah: beliau syahid di padang Karbala pada tanggal sepuluh bulan Muharram dalam usia lima puluh delapan tahun dan dikebumikan di Karbala.

Sekilas Tentang Keutamaan Imam Hasan dan Imam Husain a s

Beliau berdua adalah penghulu penghuni surga, paling dicintai Rasulullah saww.
Keduanya adalah Imam, baik berkuasa ataupun tidak. Keduanya adalah sebaik-baik manusia ayah dan ibunya serta kakek dan neneknya.
Barangsiapa mengganggu Hasan dan Husain berarti ia mengganggu Nabi saww.
Ibnu Hajar dalam Shawaiq-nya menyebut beb erapa riwayat tentang keutamaan Imam Hasan dan Husain as, di bawah ini akan kami sebutkan sebagian darinya.
Nabi saww bersabda,

“Hasan dan Husain adalah penghulu pemuda penghuni surga.” 2
Nabi saww bersabda,
"Sesungguhnya al-Hasan dan al-Husain adalah buah hatiku dan dunia.3
Nabi saww bersabda:
”Keduanya adalah putraku dan putra putriku. Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya maka cintailah keduanya dan cintai yang mencintai keduanya”4

Imam Keempat: Imam Ali Zainal Abidin a s 5

Ayah: Imam Husain a s.
Ibu: Syah Zinan putri Yazdarjud—raja Persia—dan ada yang mengatakan namanya: Syahr Banu.
Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal lima bulan Syakban tahun 38 H.
Wafat: Di Madinah pada tanggal 25 bulan Muharram tahun 95 H dalam uisa 57 tahun; dua tahun di masa hidup kakek beliau Imam Ali a s sepuluh tahun bersama paman beliau Imam Hasan dan sebelas tahun di masa ayah beliau Imam Husain a s. Beliau dikebumikan di pemakaman al-Baqi’ bersama Imam Hasan a s.
Beliau meninggalkan sebelas orang anak laki-laki dan empat perempuan, Ibnu Hajar mengatakan: "Dan yang mewarisi ketekunan ibadah, ilmu dan kezuhudan adalah Abu Ja`far Muhammad al-Baqir.6
Sekilas Tentang Keutamaan Imam Ali Zainal Abidin a s

Ibnu Hajar berkata “Ia adalah pelanjut pewaris ayahnya dalam ilmu, kezuhudan, dan ibadah, beliau apabila berwudhu pucat wajah beliau dan ketika ditanya beliau menjawab: Tidakkah kalian tahu di hadapan siapakah aku hendak berdiri?”
Disebutkan dalam sejarah bahwa ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik melaksanakan ibadah haji, ia berusaha untuk mencium hajar aswad namun kerumunan para jemaah haji menghalanginya dan mereka pun tidak menghiraukan kehadiran sang Khalifah, lalu ia beristirahat di puncak gunung sambil menanti berkurangnya jumlah para jemaah haji di sekitar Ka’bah. Namun tiba-tiba ia dikejutkan

oleh kehadiran seseorang yang penuh wibawa berjalan menuju hajar aswad dan kemudian orang-orang pun minggir dan memberinya jalan sehingga ia dengan mudah mencium hajar aswad. Hisyam merasa malu dan marah ketika ditanya oleh pcndukungnya: "Siapakah dia? Ia menjawab—seakan tidak mengenalnya: Aku tidak mengenalnya. Kemudian Farazdaq—seorang penyair besar di zamannyamempermalukan Hisyam dengan menjawab “Tapi saya mengenalnya,” lalu ia menggubah bait-bait syairnya yang masyhur mengungkap keutamaan putra Imam Husain a s tersebut dan keluarga besar ahlulbait a s dan ia menegaskan bahwa kepura-puraan Anda tidak mengenalnya tidak sedikitpun mengurangi keagungan dan kemuliaannya, sebab ia telah dikenal oleh semua kalangan baik kalangan Arab maupun non Arab.
Dan ketika bait-bait itu didengar oleh Hisyam ia marah dan memenjarakan Farazdaq di penjara Usfaan. 7

Kesaksian Para Ulama

Adapun kesaksian para Ulama tentang keagungan kepribadian Imam Ali Zainal Abidin adalah banyak sekali, di bawah ini akan kami sebutkan sebagian darinya.
Ibnu Sa'ad berkata tentang beliau as: Ia tsiqah terpercaya, banyak hadis (riwayat darinya), tinggi agung dan wara’. Ibnu Uyainah menukil Zuhri berkata “Aku tidak pernah menyaksikan seorang dari suku Quraisy yang lebih mulia dari Ali bin al-Husain. 8
Ibnu Uyainah juga menukil dari Zuhri bahwa ia berkata “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih faqih darinya.”
Imam Malik juga berkata “Tiada di kalangan ahlulbait Rasulullah saww seseorang seperti Ali bin al-Husain. 9
Sa`id bin al-Musayyib berkata “Aku tidak melihat seseorang yang lebih wara’ darinya.10
Nafi' bin Jubair berkata kepada beliau: “Sesungguhnya Anda adalah penghulu umat manusia dan yang paling afdhal”.11
Dan telah lewat pernyataan Ibnu Hajar bahwa Imam Zainal Abidin a s adalah yang mewarisi ayahnya dalam ilmu, kezuhudan dan ibadah.
Dan ketika berita wafat beliau sampai kepada Umar bin Abdul Aziz ia berkata: “Pergilah lentera agama, keindahan Islam dan penghias para penyembah.”12
Abu Zuharah—salah seorang ulama besar al-Azhar—berkata: “Ia, Zainul Abidin adalah seorang faqih sebagaimana beliau juga seorang muhadits, beliau memiliki kemiripan dengan kakek beliau Ali bin Abi Thalib dalam kemampuan penguasaan masalah fiqih dari perbagai sisinya dan pengembangan masalah-masalahnya.”13

Imam Kelima: Imam Muhammad al-Baqir as

Ayah: Imam Ali Zainal Abidin a s.
Ibu: Fatimah putri Imam Hasan bin Ali a s.
Tempat dan tanggal lahir: Madinah pada awal bulan Rajab tahun 57 H. tiga tahun sebelum syahadah kakeknya; Imam Husain as.
Wafat: Di Madinah pada tanggal tujuh bulan Zulqa’dah tahun 114 H setelah diracun—sebagaimana ayah beliau—dalam usia lima puluh tujuh tahun dan meninggalkan enam orang anak, yang paling afdhal dan sempurna adalah Ja`far ash-Shadiq oleh karenanya beliau adalah khalifah dan washi (pengemban wasiat) ayahnya, demikian dikatakan Ibnu Hajar.
Beliau a s dikebumikan dipemakaman al-Baqi’ dalam satu gubbah bersama Imam Hasan dan Abbas.

Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Muhammad al-Baqir a s

Para Ulama meriwayatkan sebuah hadis dari Jabir bin Abdillah al-Anshari r a, seperti dikisahkan oleh Zubair bin Muhammad bin Muslim alMakki, ia berkata: “Kami berada di sisi Jabir bin Abdillah r a lalu Ali bin Husain datang bersama Muhammad—putra beliau, ketika itu ia masih kanak-kanak, kemudian Ali berkata kepada putra beliau; ‘Ciumlah kepala pamanmu!’ lalu Muhammad mendekat kepada Jabir dan mencium kepalanya. Kemudian Jabir berkata: ‘Siapakah dia? (dan ketika itu ia sudah tidak melihat/buta). Lalu Ali berkata: ‘Dia adalah putraku.’ Maka Jabir memeluknya dan berkata: ‘Muhammad! Muhammad Rasulullah saww mengucapkan salam atasmu.’”
Maka para hadirin bertanya: “Bagaimana hal itu terjadi wahai Abu Abdillah?” Ia menjawab: “Saya berada di sisi Rasulullah saww dan Husain berada di pangkuannya, ia bergurau dengannya, lalu beliau bersabda: "Hai Jabir! putraku ini akan memiliki anak yang jika pada hari kiamat penyeru akan menyerukan: ‘Hendaknya penghulu para penghamba (Sayyidu Sajidiin) maka bangkitlah Ali bin Husain, dan Ali bin Husain akan dikeruniai seorang putra bernama Muhammad. Hai Jabir! jika kamu menemuinya maka sampaikan salam dariku dan jika kamu menemui masanya maka ketahuilah bahwa hidupmu setelahnya hanya sembentar.’”
Zubair bin Muhammad berkata: “Maka Jabir r a tidak hidup setelahnya kecuali tiga hari.14
Imam Muhammdan bin Ali a s digelari dengan “al-Baqir” karena beliau telah mampu mengeluarkanrahasia-rahasia ilmu dan hukum-hukum dari tempat persembunyiannya. Kata al-Baqir berasal dari kata kata kerja Baqara yang artinya membelah, baqara al-ardha artinya: (membelah bumi dan mengeluarkan isi dan kandungannya).

Kesaksian Para Ulama

Para ulama begitu mengagungkan Imam al-Baqir a s, Atha' alMakki—salah seorang tokoh tabi’in—berkata: “Aku tidak melihat para ulama begitu kecil di hadapan seseorang sebagaimana mereka di hadapan Abu Ja’far Muhammad putra Ali bin al-Husain, aku melihat al-Hakam bin Uyainah—dengan keagungannya di kalangan masyarakat—ia di hadapannya (al-Baqir ) seakan ia seorang bocah di hadapan gurunya! 15

Kesaksian serupa juga disampaikan para Ulama seperti Muhammad bin al-Munkadir, Abu Nu’aim, Ibnu Sa'ad, an-Nawawi, Ibnu Ammad al-Hanbali, Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'iy, Ibnu Khallikan dan Ibnu Shabban asy-Syafi'i. 16

Al-Munnawi berkata: “Dan beliau sangat mendalam dalam maqam orang-orang al-Arifin yang lisan para pensifatnya tidak mampu menguraikannya, beliau memiliki kalimat (untaian pernyataan) yang banyak tentang suluk dan pengetahuan (ma'arif) para pensifatnya tidak akan mampu menceritakannya.”17

Dalam kitab Hilyah al-Awliya' disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Ibnu Umar tentang sebuah masalah dan ia tidak mengetahui jawabannya, ia berkata kepada penanya tersebut: “Pergilah kepada anak kecil itu sambil menunjuk kepada al-Baqir—dan tanyakan kepadanya lalu beritahukan kepadaku jawabannya.” Kemudian ia pergi dan bertanya dan Imam alBaqir menjawab lalu penanya itu memberitahukan jawabannya kepada Ibnu Umar, maka Ia berkata: “Sesungguhnya mereka adalah ahlulbait yang mendapatkan kepahaman (dari Allah).”18

(bersambung)

Selasa, September 14, 2010

Mengapa harus sholat??


Manusia di hadapan Allah swt yang Maha Kuat dan Maha Penyayang merupakan makhluk yang lemah. Shalat adalah penghubung manusia dengan keagungan Allah swt. Ketika hati dirundung kegelisahan, hanya ibadah dan shalatlah yang dapat meringankan hati manusia. Melalui Ibadah shalat, rintangan dan kendala yang sulit dapat dihadapi dalam kehidupan ini.
Mengapa kita harus melakukan shalat?
Ini merupakan sebuah pertanyaan yang mungkin saja terlintas dalam benak setiap individu. Dalam berbagai kondisi yang sulit, problema hidup dan kesibukan pada materi membuat hati manusia sempit. Pada saat itu, manusia berharap menemukan sebuah tempat berlindung dan kondisi tenang, sehingga dapat terlepas dari segala kegelisahan.
Banyak hal yang dilakukan oleh setiap manusia untuk mendapatkan ketenangan tersebut. Menyendiri dan mendengar musik adalah di antara cara untuk mendapatkan ketenangan tersebut, namun kondisi itu tidak berlangsung lama. Akan tetapi, Islam memberikan solusi kepada manusia yang menginginkan ketenangan abadi. Menurut ajaran Islam, jika manusia membersihkan jiwanya, ia akan mencapai pada ketenangan dan kesucian abadi. Ketenangan abadi tersebut dapat diperolehi dengan shalat.
Ibadah, Kunci Berkepribadian
Seorang psikolog Inggris, Henry Lank, dalam risetnya terhadap lebih dari 10 ribu manusia yang mengalami tekanan jiwa dan pelaku kriminal, mengatakan, "Saya pada akhirnya memahami pentingnya ajaran agama dalam kehidupan manusia. Hal itu disimpulkan setelah melakukan berbagai riset. Saya mengambil kesimpulan bahwa manusia yang berpegang teguh pada keyakinan agama dan rutin ikut serta dalam acara ritual di tempat-tempat suci, akan memiliki kepribadian yang tinggi."
Dokter Edwin Frederick, salah satu dokter spesialis jiwa di AS mengatakan, "Kami seringkali menemukan kondisi pasien yang menurut para pakar dan dokter ahli, sulit disembuhkan. Akan tetapi sesuatu yang sangat berpengaruh pada kesembuhan pasien, adalah mukjizat seperti berdoa kepada Allah swt."
Seorang psikolog asal Inggris, Sarel Bert, juga mengatakan, "Dengan bantuan shalat dan doa, kita dapat memasuki sumber besar aktivitas akal yang hal itu tidak dapat dilakukan dalam kondisi biasa."
Poin tersebut sangatlah jelas bagi orang-orang yang tidak meninggalkan shalat. Shalat selain merupakan agenda terbaik untuk menenangkan jiwa manusia, juga dapat memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Selain itu, Shalat dapat dikatakan sebagai cahaya akal yang dapat mendewasakan kepribadian manusia.
Rasulullah saw menyebut shalat sebagai cahaya matanya. Beliau saw bersabda, "Segala sesuatu mempunyai wajah, sedangkan wajah agama adalah shalat. Berusahalah menjaga kesempurnaan dan keindahan wajah ini." Dalam sebuah hadis disebutkan, saat waktu shalat tiba, Rasulullah saw bersabda, "Wahai Bilal, hantarkan kami pada ketenteraman melalui shalat." Disebutkan pula, Rasulullah saw saat dihadapkan kesusahan, ia langsung mengerjakan shalat dan meminta pertolongan Allah swt."
Shalat Menerangi Jiwa
Dengan shalat, manusia akan mendekat pada sebuah sumber yang merupakan muara ketenangan. Manusia ketika mengerjakan shalat, berarti ia menjalin hubungan dengan wilayah sakral. Selain itu, hati seseorang akan merasakan sebuah gerakan ke arah kesucian. Al-Quran menyebutkan, shalat dapat menghalangi manusia dari tindakan buruk dan tercela, serta mengurangi peluang kriminalitas. Untuk itu, para tokoh agama menilai shalat sebagai landasan kuat untuk melawan hawa nafsu dan bekal luar biasa untuk memperkokoh keimanan.
Shalat yang didirikan dengan sederet etika seperti bersuci, berwudhu, mencuci tangan dan muka, menggosok gigi dan mengenakan pakaian yang bersih, telah membentuk karakter terpuji pada diri manusia. Seseorang semakin memperhatikan ucapan dan gerakan dalam shalat, ia makin akan merasakan dampaknya dalam menerangi hati nuraninya.
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghimbau para pejabat dan masyarakat supaya menaruh perhatian pada urgensi dan dampak agung shalat. Dikatakannya, "Dalam tanggung jawab besar ini, kita harus melakukan instrospeksi diri dan menguji kinerja masing-masing. Data terpenting untuk menguji keberhasilan seorang petani dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas panen yang merupakan wujud hasil kerjanya. Ketika shalat pembangun jiwa menghiasi ruang kehidupan dan lorong-lorong hati manusia dengan sebuah harapan seperti sumber mata air yang jernih, maka ia akan mencapai hasil yang positif dan kerelaan."
Shalat juga mempunyai syarat-syarat lain seperti tempat yang halal yakni bukan tempat ghasab, kesucian dan keindahan pakaian serta perhatian pada hak-hak orang lain. Kondisi semacam inilah yang membuat manusia harus menjaga dirinya sehingga tidak menindas dan menodai hak-hak orang lain. Syarat-syarat tersebut mencerminkan bahwa dampak-dampak konstruktif shalat dalam membentuk hubungan sosial yang ideal dan menumbuhkan perhatian pada keadilan di semua aspek.
Menjaga waktu shalat juga mencerminkan penekanan agama pada keteraturan dan kedisplinan dalam kehidupan individu dan sosial. Insya..., kami akan menjelaskannya dalam acara berikutnya. Dengan demikian, shalat adalah salah satu pondasi agama yang mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemapanan jiwa manusia

Rabu, Februari 03, 2010

maktal paska terbunuhnya imam Husain

Salam kepada jasad yang berlumuran darah
Salam kepada jasad yang berhiaskan tancapan anak panah
Salam kepada kepala yang selalu diciumi kakeknya
Salam kepada orang kelima di antara ash-hâb al-kisa'
Salam kepada orang yang terasing di Karbala
Salam bagimu, wahai Aba Abdillah, al-Husain…

Kini, tibalah giliran kepala-kepala suci syuhada Karbala…
Umar bin Sa'ad memerintahkan setiap kabilah memotong kepala-kepala syuhada Karbala yang akan dipersembahkan kepada Ubaidillah bin Ziyad dengan harapan hadiah darinya. Maka, bersiaplah suku Kindah bersama panglima Qais bin Asy'ats dengan 13 potong kepala, suku Hawazin bersama tentara Syimir dengan 13 potong kepala, suku Tamim dengan 7 potong kepala, bani As'ad dengan 16 potong kepala, dan pasukan lainnya dengan sisa kepala syuhada Karbala lainnya.

Sebelum melihat Padang Karbala yang memerah lantaran darah suci para syuhada Karbala; sebelum melihat pemandangan berupa jasad-jasad tanpa kepala; sebelum menengok keadaan pasca pembantaian di Karbala; mari kita ungkapkan rasa bela sungkawa dan tawasul kita kepada orang yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, kepada ibunda tercinta al-Husain, kekasih al-Husain… Kita ketuk pintu hati al-Zahra as. Dengan harapan, kelak kita akan dibangkitkan bersama al-Zahra as. Semoga al-Zahra hadir di tengah-tengah kita saat ini.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa ketika al-Husain as terbunuh, Ummu Salamah bermimpi. Dalam mimpinya itu, dia bertemu Rasulullah saww dalam keadaan berdebu, sementara di kepala beliau terdapat segenggam tanah.

Karena itu, berkatalah Ummu Salamah kepada Rasulullah saww, "Apa yang terjadi denganku, saya melihat Anda dalam keadaan berdebu…" Rasulullah saww menjawab, "Telah terbunuh putraku, al-Husain. Telah dibuatkan makam untuk al-Husain dan sahabat-sahabatnya."

Terperanjatlah Ummu Salamah. Dia lalu bangkit dan melihat botol berisi segenggam tanah (Karbala) yang pernah dititipkan Rasulullah saww kepadanya. Tanah itu berubah menjadi darah. Kemudian, di keheningan malam, Ummu Salamah mendengar suara pengumuman kesyahidan al-Husain as:

Hai orang-orang bodoh yang telah membunuh al-Husain,
Ada kabar tentang azab dan siksa
Sungguh terkutuk kalian oleh lisan putra Daud, Musa, dan pembawa Injil
Seluruh penduduk langit, para nabi, utusan, dan mereka yang terbunuh
Mendoakan keburukan menimpa kalian

Saat tragedi Karbala usai, di keheningan malam, terdengarlah pengumuman tentang kesyahidan al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as dari langit.

Wahai mata, berpestalah dengan sungguh-sungguh
Sapa yang akan menangisi para syuhada setelahku,
Dan siapa yang kan menangisi rombongan yang digiring kematian
Menuju Penguasa Yang Maha Agung

Dalam riwayat, Zainablah yang mendengar pengumuman ini, tanpa melihat siapa yang mengumumkannya.

Padang Karbala memerah karena Qasim bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib telah tersungkur. Muslim bin Awsajah telah berhias diri dengan tombak dan luka yang menganga lantaran pedang. Al-Hur telah gugur. Habib bin Madhahir, yang memiliki keistimewaan selalu melaksanakan shalat Subuh dengan wudu shalat Isyanya selama 40 tahun berturut-turut, telah berlumur darah. Kedua tangan Abul Fadl Abbas telah terpisah dari jasadnya. Abdullah bin Husain tak lagi menangis karena menahan haus. Keluarga dan pengikut setia al-Husain telah melepas rindu, bertemu Rasulullah saww. Mereka telah disambut oleh senyum al-Zahra. Sementara al-Husain, yang tentangnya telah dipesankan datuknya, Rasulullah saww,

“Wahai manusia, inilah Husain bin Ali, kenali dan muliakan dia! Ya Allah, kutitipkan dia pada-Mu.”

Kini telah tersungkur lantaran tusukan tombak, panah, dan pedang (menurut riwayat, bekas luka dan memar di jasad suci al-Husain tak kurang dari 6.666 tanda; sejumlah bilangan ayat-ayat suci al-Quran). Dan kepala suci al-Husain kini telah terpisah dari jasadnya. Beginilah al-Husain, titipan kenabian dan amanah risalah bagi umatnya, bahkan yang tak sezaman dengannya. Dan Rasul saww pun telah menitipkannya kepada kita...

Yang terdengar saat itu hanyalah isak tangis Sukainah, Atikah, dan Ummu Kultsum, juga ratap tangis para yatim dan janda-janda Ahlul Bait. Yang tampak hanyalah jasad-jasad yang berserak tanpa kepala; tak dimandikan, tak dikafankan, dan tak dikuburkan.

Setelah tragedi mahaagung itu berakhir pada terbunuhnya al-Husain dan para pahlawan Karbala, keluarlah Zainab dari kemahnya; bak ksatria yang akan berlaga di medan perang. Sorot mata Zainab menyapu jasad-jasad itu; mencari jasad abangnya, al-Husain, tanpa peduli pada barisan tentara musuh yang bersenjata. Dan pandangannya pun berhenti pada jasad kakaknya, al-Husain, yang tercabik-cabik oleh pedang dan injakan kaki-kaki kuda. Selang beberapa saat, Zainab tertegun. Kemudian, dia menatap langit dan berdoa dengan pedih:

“Ya Allah, terimalah persembahan kurban ini dari kami…Wa Muhammadah…. Inilah al-Husain yang terkubur di Padang Karbala. Semoga langit menindas bumi, semoga gunung roboh dan meratakannya… Inilah al-Husain yang berlumur darah, tercabik-cabik tubuhnya, sementara putrid-putri Rasul-Mu menjadi tawanan.”

Inilah tempat yang akan menjadi saksi di akhirat nanti, yang kan diadili Allah Swt."

Setelah Aba Abdillah al-Husain terbunuh, pasukan Ibnu Ziyad langsung menuju wanita-wanita dan kehormatan-kehormatan al-Husain. Musuh-musuh Allah itu merampas semua yang ada di kemah putri-putri Rasul saww. Mereka membakarnya; berlomba-lomba menghancurkan kesucian Rasulullah saww. Maka, berlarianlah putri-putri al-Zahra, sambil menangis dan menjerit...

Wa Husainah….! Pasukan Ibnu Ziyad merampas semua anting-anting dan gelang. Bahkan seorang laki-laki pasukan Ibnu Ziyad menarik kedua anting-anting Ummu Kulstum dengan paksa, sehingga robeklah kedua telinga Ummu Kultsum. Seorang yang lain mendekati Fathimah, putri al-Husain. Maka lepaslah anting-antingnya. Laki-laki itu lantas menangis. Fathimah bertanya kepadanya, "Kenapa engkau menangis?"
"Bagaimana tidak menangis, sementara aku telah menawan dan merampas anting-anting putri Rasulullah …" jawab lelaki itu.
Fathimah kemudian berkata, "Kalau begitu, kembalikan padaku!"
Laki-laki itu menjawab, "Aku takut orang lain mengambilnya…"

Putri-putri Ali bin Abi Thalib menggigil ketakutan… Melihat semua itu, Zainab maju ke depan sambil mendekap Ummu Kultsum dan Atikah seraya berkata, "Belum cukupkah kekejaman kalian dengan meyatimkan gadis-gadis ini? Mengapa kalian merasa harus menyempurnakan kekejaman itu dengan membakar kemah-kemah kami dan merampas harta serta kehormatan kami?"

Maka, terdengarlah teriakan dari salah seorang pasukan yang tak punya nurani, "Beruntunglah kalian karena kami tak sampai membunuh kalian. Ketahuilah, hai para wanita! Yazid dan Ibnu Ziyad memerintahkan kami agar membasmi al-Husain beserta seluruh rombongannya, termasuk kalian para wanita!"
"Jika demikian, biarkan kami di sini mengurusi jasad al-Husain dan para pengikutnya," balas Zainab.
"Hai… kami akan menggiring kalian semua dan menancapkan kepala al-Husain di ujung tombak lalu menyerahkannya kepada Ubaidillah sebagai bukti, sebagaimana perintah gubernur sebelum kami meninggalkan Kufah!" jawab yang lain di antara pasukan musuh-musuh Allah itu.

Zainab lalu menengadahkan wajahnya ke langit seraya berdoa, "Ya Allah… gandakan kekuatan dan ketabahan kami, sebagai ganti al-Husain dan para pengikutnya."

Kemudian, tentara-tentara bayaran Ubaidillah bin Ziyad itu melihat Ali bin Husain al-Sajjad yang terbaring sakit. Terdengarlah teriakan salah seorang di antara mereka, "Hai teman-teman, masih ada anak-anak Husain yang masih hidup. Jangan sisakan mereka!"
Yang lain berkata, "Jangan tergesa-gesa membunuhnya; kita bawa dia kepada Amir Umar bin Sa'ad."

Syimir lalu mengeluarkan pedangnya dan hendak membunuh Ali bin Husain. Maka berkatalah Humaid bin Muslim kepada Syimir, "Sub-hânallâh, apakah engkau hendak membunuh anak kecil yang sedang sakit ini?"
Syimir menyergah, "Ibnu Ziyad memerintahkan kami membunuh semua anak al-Husain!"

Namun, Ibnu Sa'ad melarangnya, setelah mendengar Aqilah Zainab, putri Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, "Cukup! Jangan kalian membunuhnya hingga aku terbunuh…" Mendengar ucapan dan sorot mata tajam Zainab, mereka mengurungkan niatnya.

Musuh-musuh Allah itu tak puas sampai di situ. Tak puas merampas anting-anting dan gelang keluarga al-Husain, mereka keluarkan putri-putri Rasulullah saww dengan membakar kemah-kemahnya. Maka, berhamburanlah wanita-wanita itu, sambil menangis dan berteriak, "Demi Allah, tidakkah kalian membiarkan kami tanpa melewati jasad al-Husain?"

Ketika melihat jasad al-Husain yang berlumur darah, para wanita Ahlul Bait itu memukuli wajah sebagai tanda duka mendalam atas peristiwa itu.

Di penghujung hari Asyura, Ibnu Sa'ad membawa kepala al-Husain di tangan Khuli bin Yazid al-Ashbahi dan Humaid bin Muslim Al-Azdi; hendak menyerahkan kepala cucu Nabi saww itu kepada Ubaidillah bin Ziyad. Sementara kepala-kepala keluarga dan pengikut setia al-Husain dibawa Syimir, Qais bin Asy'ats dan Umar bin Hujjaj. Menutur riwayat, jumlah seluruh kepala syuhada Karbala adalah 72 potong.

Berdasarkan riwayat Hisyam dari Nawar putri Malik, sebelum mempersembahkan kepala al-Husain kepada Ibnu Ziyad, Khuli pulang malam itu ke rumahnya, yang tidak jauh dari Karbala, dengan membawa kepala itu. Dia meletakkan kepala suci al-Husain di atas nampan, lalu berbaring di atas tempat tidurnya. Nawar kemudian bertanya kepadanya, "Apa yang kau bawa pulang ke rumah?"

"Aku datang membawa kekayaan untuk selamanya, inilah kepala Husain, bersamamu di rumah ini," jawab Khuli.

Putri Malik itu pun menandas, "Celakalah engkau! Orang pulang bersama emas dan perak, sedangkan engkau pulang dengan kepala putra dari putri Rasulullah! Tidak, demi Allah! Aku tidak sudi lagi bersamamu!"

Kemudian, putri itu Malik keluar. Di luar, dia melihat keajaiban. Dia menuturkan, "Demi Allah, aku melihat cahaya membentang dari langit menuju nampan berisi kepala al-Husain as itu dan burung putih berputar-putar di sekitarnya." Pagi harinya, Khuli membawa kepala suci Imam as ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad.

Bergeraklah arak-arakan prajurit Ubaidillah bin Ziyad dengan kepala-kepala suci syuhada Karbala yang ditancapkan di ujung tombak dan pedang, sembari menggiring putri-putri Rasulullah sebagai tawanan.

Diriwayatkan, Zaid bin Arqam berkata, "Ketika itu, aku berada di kamarku. Lalu rombongan pembawa kepala-kepala yang sudah dipisahkan dari jasadnya itu lewat dekat rumahku. Aku mendengar ayat suci Allah Swt dilantunkan kepala al-Husain:

Demi Allah, wahai putra Rasulullah… kepalamu sungguh lebih menakjubkan…"
Diriwayatkan pula, Hilal bin Muawiyah berkata, "Ketika pawai arak-arakan dimulai dengan membawa kepala suci cucu Rasullah dan para syuhada Karbala lainnya, di pertengahan jalan, aku melihat orang yang membawa kepala al-Husain. Kepala cucu Rasul itu pun berbicara (kepadanya), 'Engkau telah pisahkan kepalaku dari jasadku, semoga Allah memisahkan daging dari tulangmu, dan semoga Allah menyiksamu, sebagai contoh untuk seluruh alam.' Ketika mendengar suara yang keluar dari mulut suci cucu Rasulullah itu, laki-laki pembawa kepala al-Husain itu mengangkat tongkat yang ada di tangannya, lalu memukul-mukulkannya kepada kepala al-Husain hingga mulut suci al-Husain terdiam. Di sinilah Allah ingin memperlihatkan keagungan-Nya.

Hari kesebelas bulan Muharam. Setelah mentari mulai membakar kulit para wanita Ahlul Bait Rasulullah, tepatnya setelah Zuhur, Ubaidillah mulai bergerak menuju Kufah. Sebelumnya, dia memerintahkan pasukannya mengumpulkan prajurit-prajuritnya yang terbunuh, kemudian menshalati dan menguburkannya. Sementara, dia biarkan pemimpin pemuda ahli surga, titipan kenabian, Aba Abdillah al-Husain beserta keluarga dan pengikut setianya tetap di lapangan terbuka Karbala, tanpa dimandikan, dikafankan, dan dikuburkan.

Bergeraklah pasukan yang dipimpin Ubaidillah bin Ziyad menuju Kufah, diikuti putri-putri al-Husain, janda-janda Ahlul Bait, dan keluarga para sahabat al-Husain; berlilitkan rantai di kaki mereka. Mereka terdiri dari 20 tawanan wanita, Ali Zainal Abidin al-Sajjad putra al-Husain, Muhammad al-Baqir putra al-Sajjâd, yang keduanya dilindungi Allah dalam peperangan itu sebagai penerus kepemimpinan, dan 12 anak-anak kecil lain dari Bani Hasyim…

Ketika terdengar komando pemimpin pasukan musuh Allah, Ubaidillah bin Ziyad, "Bergeraaak…!" Terdengarlah salam perpisahan Zainab, "Ya… Husain, maafkan kami semua. Kami tak diizinkan menguburkanmu, selamat berpisah abangku, ya Husain…"
Diriwayatkan, Sukainah sempat memeluk jasad ayahnya, al-Husain, dan mendengar suara :

Wahai pengikutku, saat kalian minum, ingatlah aku…
Jika kalian mendengar yang terasing atau syahid, ratapilah aku…

Sukainah memeluk erat jasad ayahnya, hingga seorang prajurit musuh Allah menariknya dengan paksa. Maka terlepaslah pelukan Sukainah…

Jarak Karbala dengan Kufah tak terlalu jauh… Sampailah pasukan beserta kafilah tawanan putri-putri Rasulullah itu di gerbang kota Kufah. Mereka disambut gubernur Kufah dengan gembira dan disambut beberapa wanita Kufah dengan tangis penyesalan sambil memukuli wajah masing-masing. Melihat itu, Ummu Kultsum berteriak, "Hai penduduk Kufah, tidakkah kalian malu kepada Allah dan Rasul-Nya dengan memandangi kami, kehormatan Nabi?"

Tiba-tiba, penduduk Kufah dan anak-anak mereka melemparkan kurma dan kepingan dinar ke arah rombongan Zainab. Ummu Kulstum segera berteriak, "Hai manusia, haram bagi kami menerima sedekah. Ketahuilah, kami keluarga nabi dan Ali." Ummu Kultsum mengambil dan melemparkan kembali semuanya.

Kita lihat, betapa besar peran Aqilah Zainab al-Kubrâ, yang memiliki kharisma Ilahiah, cahaya Muhammadiah, dan keberanian Haidariah serta keluarga al-Musthafa Muhammad saww.

Seorang periwayat mengatakan, setelah Zainab memberi isyarat dengan pandangan matanya, tenggorokan semua penduduk Kufah tercekik membisu; dihentakkan oleh khutbah beliau, "Segala puji bagi Allah, shalawat atas kakekku Muhammad dan keluarganya yang suci. 'Amma ba'du, wahai penduduk Kufah, para penipu dan pengkhianat! Mengapa kalian menangis hingga tak kering air mata kalian dan tak diam ratapan kalian? Sungguh, kalian tak ubahnya seorang wanita penenun yang mengoyak hasil tenunannya yang telah terajut kuat. Kalian jadikan sumpah dan ikrar sebagai permainan. Ketahuilah, yang ada pada diri kalian adalah bualan, dusta, kebohongan, penipuan, pengkhianatan, kedurjanaan, atau seonggok kotoran di kandang binatang piaraan, atau karat di sebilah pedang. Ketahuilah! Sungguh buruk murka Allah yang kalian pilih untuk kalian. Kalian akan menangis dan mengumpat diri kalian sendiri!"

"Wahai manusia! Demi Allah, banyak-banyaklah menangis dan sedikitlah tertawa. sebab, kalian telah melakukan hal yang amat memalukan dan menjijikkan; yang takkan pernah dapat kalian bersihkan dan gantikan dengan apapun. Bagaimana mungkin kalian dapat membersihkan diri kalian dari semua itu? Kalian telah membantai cucu-cucu utusan terakhir Tuhan, manusia-manusia yang sejak kecil menghirup wangi risalah dan menyaksikan cahaya wahyu, penghulu para pemuda surga, penjelas hujah, dan penajam lidah kalian! Betapa buruk perbuatan yang telah kalian lakukan ! Penyesalan, kesengsaraan, keterasingan, dan kehinaan adalah bagian kalian kelak. Kerja keras kalian sungguh sia-sia, dan perniagaan kalian akan merugi. Kalian akan menghadap Tuhan sebagai makhluk yang dimurkai dan dibenci Allah dan Rasulullah! Kehormatan Rasulullah telah kalian injak-injak, darahnya telah kalian alirkan dan cecerkan, dan larangannya telah kalian terjang!"

"Dengan perbuatan ini, kalian telah melakukan persekongkolan dan kecurangan yang legam dan kotor, tandus laksana bukit cadas, atau hampa bak angkasa bebas. Dan siksa akhirat adalah nasib kalian kelak. Hai Ibnu Ziyad, kau telah melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan para durjana, kapan dan di manapun! Tega nian kau lakukan semua ini!"
Ubaidillah kemudian bertanya, "Siapa wanita muda yang berdiri di sebelah Zainab itu?"
"Ia adalah Fathimah putri al-Husain," jawab Khuli.

"Hai Fathimah, bagaimana tanggapanmu atas peristiwa yang menimpamu?" teriaknya.
Fathimah menghadapkan wajahnya yang sembab ke arah khalayak kota Kufah, lalu berpidato, "Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah atas kakekku, Rasulullah saww, beserta keluarganya yang suci. Amma ba'du, wahai penduduk Kufah! Wahai para penipu, pengkhianat, dan pelaku makar. Sesungguhnya kami, Ahlul Bait, memperoleh ujian berat dari Allah melalui kalian, dan kalian juga memperoleh ujian berat melalui kami. Namun, Alllah menjadikan ujian kami sebagai kebaikan; menjadikan pengetahuan dan pemahaman-Nya atas kami. Kami adalah kunci ilmu-Nya, tambang pengetahuan-Nya, kebijakan-Nya, hujah-Nya di muka bumi ini, di negeri-Nya, dan untuk hanba-hamba-Nya. Allah memuliakan kami dengan karamah-Nya. Allah mengutamakan kami atas semua ciptaan dengan Nabi-Nya. Tetapi, kalian telah menganggap kami pendusta, kalian menolak dan ingkar terhadap kami, serta beranggapan bahwa memerangi kami adalah perbuatan halal dan menjadikan harta kami sebagai rampasan. Seakan-akan kami adalah anak-anak gelandangan dan tawanan, sebagaimana halnya dulu kalian memerangi kakek kami, Rasulullah saww.

Pedang-pedang kalian mengucurkan darah kami, Ahlil Bait, karena dendam lama yang bercokol di hati kalian. Karena itulah, mata kalian berbinar dan hati kalian berbunga. Jangan merasa gembira dengan menumpahkan darah kami dan merampok harta kami. Karena, sesungguhnya musibah agung yang kami hadapi telah ditentukan dalam Kitab Allah sebelum terjadi. Yang demikian itu sangat mudah bagi Allah, dan supaya kamu sekalian tidak berputus asa terhadap apa yang tidak kalian peroleh, serta tidak bergembira dengan apa yang kalian dapatkan. Sebab, Allah tidak menyukai orang-orang sombong…"
"Celakalah kalian! Nantikan laknat dan siksa Allah yang kian dekat menimpa kalian. Akan diciptakan perasaan dan suasana saling benci dan bermusuhan di antara kalian. Dan penindasan sebagian kalian atas sebagian yang lain. Setelah itu, kalian akan abadi dalam siksa amat pedih di hari kiamat lantaran kezaliman kalian atas kami. Ketahuilah! Sungguh laknat Allah itu ditimpakan atas orang-orang zalim…"

Selain Zainab dan Fathimah, Ali al-Sajjad dan Ummu Kultsum juga sempat berpidato, mengecam warga Kufah. Mari kita dengarkan pidato Ali Zainal Abidin al-Sajjad as, yang dirantai kedua tangannya serta dililitkan ke lehernya. Setelah memuji Allah Swt dan bershalawat kepada Rasulullah saww beserta keluarganya, beliau berkata, "Wahai manusia, barangsiapa mengenalku, dia telah adalah mengenalku. Dan barangsiapa tidak mengenalku, ketahuilah bahwa aku adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Akulah putra yang dirusak kehormatannya, dihilangkan kenikmatannya, dirampas hartanya, dan ditawan keluarganya. Akulah putra yang disembelih di sisi sungai Furat. Akulah putra orang yang telah dibunuh dalam keadaan sabar, dan cukuplah semua itu sebagai kebanggaanku. Wahai manusia, aku minta kalian bersumpah kepada Allah; apakah kalian tahu bahwa sesungguhnya kalian telah menulis dan memberikan janji serta baiat kepada ayahku, lalu kalian membunuhnya? Maka, celakalah kalian atas apa yang telah kalian berikan untuk diri kalian! Dengan pandangan macam apa kalian akan melihat Rasulullah saww jika berkata kepada kalian, 'Kalian semua telah membunuh putraku, telah merusak kehormatanku! Kalian bukan umatku!'"

Terdengarlah suara-suara tangisan, lalu terdengarlah teriakan di antara tangisan itu, "Binasalah kalian! Apa yang kalian ketahui?"
Kemudian, beliau melanjutkan pidatonya, "Semoga Allah merahmati orang yang mendengar nasihatku dan menjaga wasiatku di jalan Allah, Rasulullah saww, dan Ahlul Baitnya. Sesungguhnya kami memiliki suri teladan yang baik pada diri Rasulullah."
Mereka serempak berkata, "Wahai putra Rasulullah, kami mendengar, taat, dan menjaga kehormatanmu tanpa meninggalkanmu. Kami tidak membencimu; kami telah menjagamu dan semoga Alllah merahmatimu. Kami perangi orang yang memerangimu dan berdamai dengan orang yang berdamai denganmu. Kami bebas dari mereka yang telah menzalimimu dan menzalimi kami."

Maka, berkatalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, " Tidak! Wahai para penipu dan pengkhianat! Tipulah di antara kalian dan nafsu kalian! Apakah kalian hendak datang padaku seperti kalian telah datang pada ayahku sebelumnya? Tidak! Sesungguhnya, luka belum sembuh dan ayahku beserta keluarganya kemarin telah dibunuh. Belum terlupakan oleh(ku) kehilangan atas Rasulullah, ayahku, dan anak-anak ayahku."

Penduduk Kufah dikejutkan oleh suara keras pegawai istana, yang keluar-masuk perkampungan sambil mengumumkan bahwa Ubaidillah bin Ziyad akan memberikan pernyataan dan pidatonya di masjid jami. Seluruh warga diharap hadir.

Di hadapan warga Kufah yang berjejal, Ibnu Ziyad lalu berdiri dan mengawali ceramahnya dengan cercaan terhadap Ali, al-Hasan, al-Husain. Tiba-tiba, terdengar suara dari tengah khalayak. Ibnu Ziyad seketika menghentikan pidatonya. Abdullah bin 'Afif al-Azdi yang lanjut usia dan buta, bangkit dari duduknya seraya berteriak, "Hai, hentikan bualanmu! Tutup mulutmu! Semoga Allah malaknatmu, ayah, dan kakekmu. Dan semoga Allah menggorengmu di kuali raksasa-Nya kelak, sebagai ganti dan balasan atas perbuatan-perbuatanmu yang keji; membantai cucu kesayangan Rasul saww, mencacinya, dan mempertontonkan kaum wanitanya. Hai, Ibnu Ziyad! Rasulullah saww pernah bersabda, 'Barangsiapa mencaci Ali, berarti mencaciku. Barangsiapa mencaciku, berarti telah mencaci Allah. Barangsiapa mencaci Allah, maka wajahnya akan dibenamkan ke neraka!"

Suara sahabat nabi yang tua renta itu begitu tajam dan lantang, sehingga wajah gubernur Kufah itu memerah.

"Hai pengawalku! Seret lelaki tua bangka itu, lalu lucuti urat-urat di lehernya!" perintah Ibnu Ziyad seraya menunjuk Abdullah di keramaian khalayak. Perintahnya gagal dilaksanakan karena khalayak yang hadir menghalanginya. Lalu Ubaidillah turun dari mimbarnya menuju istana bersama para pengawalnya.

Suasana Kufah menjadi tegang. Kata-kata Abdullah al-Azdi telah menjadi bahan perbicangan. Berbarengan dengan itu, pasukan berkuda Ubaidillah bin Ziyad menelusuri perkampungan Kufah di malam hari, hingga berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Inilah rumah Abdullah al-Azdi. Mereka adalah pasukan yang bertugas menculik siapa saja di antara penduduk Kufah yang berani menentang gubernur Ubaidillah bin Ziyad. Sejenak mereka berhenti di depan pintu rumah Abdullah, menanti perintah panglima.

Putri kecil Abdullah terjaga dari tidurnya. Setelah mengintip dari lubang pintu, dia segera membangunkan ayahnya yang sedang tidur. "Ayah, pasukan musuh telah bersiaga di depan rumah!" ujarnya sambil sedikit berbisik.

"Putriku, ambilkan pedangku!" remaja putri itu pun melaksanakan perintah ayahnya. "Tetaplah di sini dan berikan komando ke kanan dan ke kiri, saat aku berhadapan dengan mereka!" ujar lelaki tua yang buta dan pencinta Ahlil Bait itu mantap.

"Anakku, sampaikan salam ayah pada ibumu! Biarkan dia tertidur lelap. Itu lebih baik daripada melihat peristiwa yang akan kualami," tambahnya sambil memeluk putri kesayangannya.

Pintu rumah Abdullah pun terlempar. Pasukan yang telah menghunuskan pedang itu mendobrak dan serentak masuk. Pedang Abdullah menyongsong kedatangan mereka, sambil berkata, "Akulah putra yang memiliki keutamaan dan selalu menjaga kehormatannya yang suci. Berapa pasukan di antara kalian yang sangat lemah ini mampu melawan pahlawan sepertiku!"

Serangan sahabat Nabi saww yang tak terduga itu berhasil merobohkan sejumlah tentara di tengah kegelapan. Pasukan Ibnu Ziyad seketika mundur, setelah melihat serangan Abdullah. Mereka lalu menyerbu Abdullah bin 'Afif dari segala arah. Abdullah kewalahan melayani sergapan musuh-musuhnya. Luka di sekujur tubuhnya telah mengurangi tenaga dan ketangkasannya. Dia terjatuh dan mengerang kesakitan.

"Hentikan!" teriak sang komandan, "biarkan dia hidup! Seretlah tua bangka ini ke hadapan gubernur!"

Betapa gembira Ubaidillah bin Ziyad, yang sedari tadi telah menunggu dengan cemas, saat melihat kedatangan pasukannya yang membawa pesanannya.

"Alhamdulillah yang telah membutakan kedua matamu," sapanya sambil menyeringai di hadapan Abdullah yang berlumur darah.

"Puji atas-Nya yang telah membutakan mata hatimu!" balas Abdullah.
"Aku telah berjanji untuk memisahkan tubuh dan nyawamu perlahan-lahan," ujar Ubaidillah menakut-nakuti.

Abdullah hanya tersenyum mendengar ancaman Ubaidillah bin Ziyad. "Hai putra Marjanah! Aku bukan sasaran tepat bagi gertakanmu! Ketahuilah, kedua mataku ini telah kuhadiahkan kepada Ali saat memerangi kakek-kakekmu di Shiffin. Aku sangat menyesal karena tak berjaya meraih syahadah di sisi Amirul Mukminin sebagai bukti keberanian dan kesetiaanku. Kini harapanku terkabul ketika manusia-manusia paling bejat seperti kau hendak membunuhku. Hai Ubaidillah, inilah saat yang paling kunantikan!"

Akulah manusia beruntung, pemburu cinta
Kuhadiahkan mata sebagai cindera mata
Kubela Ali dengan segenap jiwa dan raga
Kususul kafilah putranya sebatang kara
Kematian dan luka bukanlah petaka
Bagi pencinta Ahlul Bait al-Musthafa
Jangan menunda-nunda, tak perlu memaksa
Akan kukejar pahala, kuhampiri surga

"Hai, bersihkan lantai istanaku dari darah manusia tak berguna ini!' perintah Ubaidilah bin Ziyad menghentikan puisi Abdullah. "Seret dan salib dia! Biarkan tubuhnya menjadi persinggahan burung-burung pemakan bangkai."
Perintah pun dilaksanakan. Akhirnya, Abdullah meneguk cawan al-Musthafa, innâ lillahi wa innâ ilahi râji'ûn.. Ya Allah, jadikan orang tua kami seperti Abdullah bin 'Afif.

Masih banyak peristiwa-peristiwa dalam perjalanan dari Karbala sampai Syam, yang akhirnya Yazid bin Muawiyah membebaskan seluruh tawanan-tawanan yang terdiri para wanita Ahlul Bait, Ali Zainal Abidin, dan anak-anak kecil.

Tibalah mereka semua di kota Madinah.
Lihatlah Ummu Kultsum, ketika melihat pusara kakeknya, Rasulullah saww. Dia roboh di depan pintu masjid kakeknya; menangis sambil merangkak dan berusaha mendekati pusara Rasulullah saww.

"Salam sejahtera atas kakekku! Oh, betapa kami tersiksa karena rindu padamu! Kini, akulah wanita tanpa pelindung; bawalah aku bersamamu…"

Ali Zainal Abidin menyusul bibinya; menghampiri pusara kakeknya sambil menangis.
"Salam sejahtera bagimu, Rasulullah! Kami sungguh kesepian dan sengsara, umatmu telah membunuh putramu dan menganiaya putri-putrimu…"
Zainab beserta adik-adik dan kemenakannya, berlarian menuju pusara Rasulullah saww.
Imam Muhammad al-Baqir berkata, "Sesungguhnya langit menangis untuk al-Husain selama 40 hari (sejak kesyahidannya). Matahari memerah di kala terbit dan memerah di kala terbenam."
Semoga kita menjadi pengikut al-Husain as…


Preefort

Oleh: Subhan Hassannoesi
Aktivis Dakwah Papua yang juga anggota Majlis Muslim Papua ( MMP )

Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.
http://berita. liputan6. com/progsus/ 200209/41945/ class=%27vidico% 27

Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapur a sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan lading uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran senidir telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.


Jumat, Januari 22, 2010

Mengenal Lebih dekat Mazhab Ahlul Bayt (syi'ah imamiah itsna asyariyah = Syiah Ja'fariyah)

Mazhab syi'ah imamiah itsna asyariyah = Syiah Ja'fariyah

1. Adalah sebuah kelompok besar dari umat Islam pada masa sekarang ini, dan jumlah mereka diperkirakan ¼ jumlah umat Islam. Latar belakang sejarahnya bermuara pada masa permulaan Islam, yaitu saat turunnya firman Allah swt. surat Al-Bayyinah ayat 7 :
1. Adalah sebuah kelompok besar dari umat Islam pada masa sekarang ini, dan jumlah mereka diperkirakan ¼ jumlah umat Islam. Latar belakang sejarahnya bermuara pada masa permulaan Islam, yaitu saat turunnya firman Allah swt. surat Al-Bayyinah ayat 7 :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi. (QS. Al Bayyinah [98]:7)

Selekas itu, Rasulullah saw. meletakkan tangannya di atas pundak Ali bin Abi Thalib a.s., sedang para sahabat hadir dan menyaksikannya, seraya bersabda: “Hai Ali!, Kau dan para syi’ahmu adalah sebaik-baiknya penduduk bumi”. [1]

Dari sinilah, kelompok ini disebut dengan nama “syi’ah”, dan dinisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq a.s. karena mengikuti beliau dalam bidang fiqih.

2. Banyak dari kelompok ini yang tinggal di Iran, Irak, Palestina, Afganistan, India, dan tersebar secara luas ke negara-negara republik yang memisahkan diri dari Rusia, juga ke negara-negara Eropa, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Amerika, dan Benua Afrika serta Asia timur. Mereka memiliki masjid-masjid, Islamic Center, pusat-pusat kegiatan budaya dan sosial.

3. Kaum Syi’ah Ja’fariyah terdiri dari bangsa, suku, bahasa dan warna yang berbeda-beda. Mereka hidup secara berdampingan dengan saudara-saudara muslim yang lain dari golongan dan mazhab yang berbeda dengan penuh kedamaian dan kasih sayang. Dan mereka saling mem-bantu dan bekerja sama di segala bidang dengan penuh

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhya orang-orang mukmin adalah saudara. (QS. Al-Hujurat [49]:10)

Dan firman Allah swt.:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى

Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa”. (QS. Al-Maidah [5]:ٰ)

Dan berpegang teguh pada sabda Nabi saw.: “Orang-orang muslim - satu sama lainnya- laksana tangan yang satu”. [2] Juga sabda yang lain dari beliau: “Orang-orang mukmin (satu sama lainnya) seperti satu tubuh”.[3]

4. Sepanjang sejarah Islam, mereka memiliki sikap disegani dan posisi yang cemerlang dalam membela Islam dan kaum muslimin. Mereka juga telah mampu mendirikan pemerintahan-pemerintahan dan negara-negara yang ber-khidmat pada peradaban Islam. Begitu juga, mereka memiliki ulama-ulama serta ahli-ahli yang telah menyum-bangkan tenaga dan seluruh pikiran mereka untuk memperkaya warisan-warisan Islam; dengan cara menulis ratusan ribu karangan, buku-buku kecil dan besar di bidang tafsir Al-Quran, hadis, akidah, fiqih, ushul fiqih, akhlak, dirayah, rijal, filsafat, nasihat-nasihat, sistem pemerintahan dan kemasyarakatan, bahasa dan sastra bahkan kedokteran, fisika, kimia, matematika, astronomi, ilmu-ilmu biologi, dan cabang-cabang ilmu lainnya. Dalam berbagai disiplin ilmu mereka memainkan peran sebagai perintis dan pencetus berbagai bidang keilmuan.[4]

5. Mereka percaya kepada Allah Yang Maha Esa, tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, serta tak ada sekutu bagi-Nya. Mereka menafikan dari Dzat Allah swt. segala sifat-sifat kebendaan, anak, tempat, zaman, perubahan, gerak, naik dan turun, dan lain sebagainya yang tidak layak bagi keagungan, kesucian, kesempurnaan dan keindahan-Nya. Mereka juga meyakini bahwa hanya Dialah yang layak disembah, bahwa hukum serta syariat hanyalah milik dan hak-Nya, dan bahwa kemusyrikan dengan segala macam-nya, secara terbuka maupun rahasia—adalah kezaliman yang amat besar dan dosa yang tak terampunkan.

Mereka percaya akan semua ini dapat dibuktikan atas dasar akal yang sehat yang sejalan dengan Al-Quran dan hadits shahih; dari manapun sumbernya. Mereka tidak bersandar pada hadis-hadis Israiliyat dalam bidang akidah, tidak pula mengambil ajaran dari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang Majusi; yang menggam-barkan Allah swt. dalam bentuk manusia, menyerupakan-Nya dengan makhluk-makhluk, atau menyandarkan perbuatan zalim dan kesia-siaan kepada-Nya. Sesung-guhnya Allah Maha Suci dan Maha Luhur dari apa yang mereka duga atau menisbatkan perbuatan tercela kepada para nabi a.s. secara mutlak.

6. Mereka meyakini bahwa Allah swt. Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia menciptakan alam semesta atas dasar keadilan dan kebijaksanaan. Dia tidak pernah mencip-takan sesuatu secara sia-sia, baik benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, langit atau bumi, karena kesia-siaan itu bertentangan dengan keadilan dan kebijaksanaan, juga bertentangan dengan sifat-Nya yang melazimkan setiap kesempurnaan yang niscaya dimiliki-Nya, serta melazimkan penafian segala kekurangan dari Dzat-nya.

7. Mereka meyakini bahwa Allah swt.—dengan keadilan dan kebijasanaan-Nya—telah mengutus kepada manusia para nabi dan rasul yang diangkat sebagai manusia-manusia maksum dan memiliki pengetahuan yang luas, yang bersumber dari wahyu untuk memberi hidayah kepada manusia, membantu mereka mencapai kesem-purnaan yang diharapkan, dan mengarahkan mereka kepada ketaatan yang menurunkan surga, dan menyam-paikan mereka kepada rahmat dan keridhaan Allah swt.

Di antara para nabi dan rasul itu adalah Adam a.s., Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s. dan nama-nama lainnya yang telah disebutkan oleh Al-Quran, atau yang ada disebutkan nama dan keadaan-keadaan mereka dalam hadis-hadis yang mulia..

8. Mereka percaya bahwa siapa yang taat kepada Allah swt. dan melaksanakan perintah-perintah dan aturan-aturan-Nya di segala bidang kehidupan, ia akan selamat dan beruntung, serta layak mendapatkan pujian dan pahala,. meskipun ia hamba sahaya dari Afrika. Dan sebaliknya, siapa yang bermaksiat kepada Allah swt. dan pura-pura bodoh terhadap segala perintah-Nya dan menerapkan hukum-hukum selain hukum-hukum Allah, ia akan rugi dan binasa, dan layak mendapatkan hujatan dan siksa, meskipun ia seorang tuan atau sayyid dari bangsa Quraisy, sebagaimana yang terdapat dalam hadis Nabi saw.

Mereka meyakini bahwa tempat pahala dan siksa adalah Hari kiamat, yang di dalamnya terdapat hari perhitungan, timbangan, surga, dan neraka. Dan hal itu akan terjadi setelah melewati alam kubur dan alam barzakh. Mereka juga menolak reinkarnasi (tanâsukh) yang dianut oleh sebagian pengingkar Hari Kebangkitan, karena mempercayainya berarti mendustakan Al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw.

9. Mereka meyakini bahwa nabi, rasul terakhir dan yang paling utama adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib saw., yang telah dijaga dari kesalahan dan ketergelinciran, dan Allah telah memeliharanya dari segala maksiat, baik yang besar maupun yang kecil, sebelum dan sesudah menjadi nabi, dalam tablig maupun di luar tablig. Dan Allah swt. telah menurunkan kepada-nya Al-Quran untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia sepanjang masa. Nabi saw. telah meyampaikan risalah-Nya dan menunaikan amanat-Nya dengan benar dan ikhlas. Kaum Syi'ah mempunyai puluhan ribu karya di bidang penulisan siroh nabawi, kepribadian, sifat-sifat, keistimewaan dan mukjizat-mukjizat Nabi saw. [5]

10. Mereka meyakini bahwa Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah saw. melalui Jibril a.s. dan ditulis oleh sekelompok sahabat-sahabat besar generasi pertama. Di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib a.s. pada masa Nabi saw. dan melakukan penulisan wahyu di bawah pengawasannya. Dan karena perintah dan petunjuknya, mereka menghafal dan menyempurnakannya, menghitung huruf-hurufnya, kata-katanya, surat-surat dan ayat-ayatnya. Dan mereka menurunkan ke generasi berikutnya. Kitab suci inilah yang dibaca umat Islam saat ini dengan berbagai macam kelompok, siang dan malam, tanpa ada penambahan, pengurangan dan perubahan. Dan kaum Syi’ah dalam bidang ini memiliki karya-karya tulis yang banyak, baik yang besar maupun yang kecil.[6]

11. Mereka meyakini bahwa tatkala Rasulullah saw. sudah dekat ajalnya, beliau mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dan pemimpin umat Islam sepening-galnya secara politis dan mengarahkan mereka kepada Ali untuk mengikutinya, baik dalam pemikiran atau dalam pemecahan persoalan hidup mereka, dan mene-ruskan pendidikan dan pembinaan mereka. Pengang-katan itu atas dasar perintah dari Allah di sebuah tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum” di akhir usia dan haji terakhirnya, dan di tengah kumpulan manusia yang ikut berhaji dengan Nabi saw. Menurut sebagian riwayat, jumlah mereka lebih dari 100 ribu orang.

Pada kesempatan itu beberapa ayat Al-Quran telah turun, di antaranya:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika engkau itdak melaksanakannya berarti engkau tidak menyampai-kan risalah. Dan Allah akan melindungimu dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi pentunjuk kepada kaum yang kafir.” (QS. Al Maidah [5]:67)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini Aku sempurnakan untukmu agamamu dan aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu dan Aku relakan Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa dari agamamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.” (QS Al-Maidah [5]:3)

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ لِّلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ

“Seorang penanya bertanya tentang suatu kejadian ke atas orang-orang kafir, azab yang tidak ada penghalang (langsung).” (QS. Al-Ma'arij [70]:1-2)

Begitu juga Nabi saw. meminta orang-orang untuk berbaiat kepada Ali dengan berjabat tangan. Maka merekapun segera berbaiat. Dan orang pertama dari mereka adalah tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar, serta sahabat-sahabat ternama.[7]

12. Mereka meyakini bahwa imam setelah Rasulullah saw. harus melakukan apa-apa yang pernah dilakukan Nabi saw. semasa hidup beliau, yaitu tugas-tugas memimpin dan memberikan petunjuk, pendidikan dan pengajaran, menjelaskan hukum-hukum, mengatasi problematika pemikiran, serta mejelaskan urusan sosial yang penting. Maka, imam juga harus menjadi kepercayaan umat, agar mereka bisa diarahkan pada ketentraman. Oleh karena itu, seorang imam menyerupai Nabi dalam kemampuan dan sifat, di antaranya kemaksuman ('ishmah) dan ilmu yang luas. Karena, imam sama seperti Nabi dalam kewenangan dan tanggung jawab kecuali menerima wahyu dan kenabian, sebab kenabian telah tertutup dan berakhir pada Rasulullah saw., beliau adalah penutup para nabi dan rasul. Agamanya adalah pemungkas seluruh agama, syariatnya pemungkas seluruh syariat, kitabnya pemungkas seluruh syariat, kitabnya pemungkas seluruh kitab. Tidak ada nabi setelahnya, tidak ada agama setelah agamanya, tidak ada syariat setelah syariatnya. Dan Syi’ah dalam hal ini memiliki karya-karya tulis yang banyak dan berbagai corak..

13. Mereka meyakini bahwa kebutuhan umat terhadap pemimpin yang laik dan maksum, mengharuskan agar tidak cukup dengan penunjukan Ali a.s. saja sebagai khalifah dan pemimpin setelah Nabi, tetapi ini harus berkesinambungan sampai masa yang panjang dan sampai akar-akar Islam mengokoh dan dasar-dasar syariat terjaga, serta pilar-pilarnya terpelihara dari segala bahaya yang mengancam setiap akidah dan aturan-aturan Tuhan. Hendaknya para imam dapat memberikan contoh praktis dan program yang sesuai dengan kondisi-kondisi yang akan dialami umat Islam setelahnya.

14. Mereka meyakini bahwa karena sebab tersebut di atas dan karena adanya hikmah yang tinggi, dengan perintah Allah swt. Nabi saw. telah menentukan 11 Imam setelah Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Dengan demikian, jumlah mereka adalah 12 imam. Jumlah ini bahkan nama etnis mereka (Quraisy) telah disinggung—meski tidak disebut-kan nama dan ciri-ciri khasnya—dalam kitab Shahih Bukhori, Shahih Muslim, dengan redaksi yang berbeda-beda, seperti yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Bahwa: “Sesungguhnya agama ini akan senantiasa berjalan, tegak, mulia dan kuat selama di antara umat ada dua belas pemimpin atau khalifah yang semuanya berasal dari Quraisy”. (atau Bani Hasyim, sebagaimana yang terdapat dalam sebagian kitab). Bahkan disebutkan pula nama-nama mereka dalam sebagian kitab selain Kutub As-Sittah, yaitu buku-buku tentang keutamaan (manâqib), syair dan sastra. Meskipun hadis-hadis ini tidak secara langsung menye-butkan dan menentukan dua belas Imam, yaitu Ali dan 11 Imam dari keturunannya, hanya saja hadis-hadis tersebut tidak bisa dimaknai kecuali keyakinan Syi’ah Ja’fariyah. Dan tidak ada penafsiran yang relevan untuk hadis-hadis tersebut kecuali penafsiran mereka.[8]

15. Syi’ah Ja’fariyah meyakini bahwa 12 imam itu ialah :

1. Imam Ali bin Abi Thalib Al-Mujtaba a.s.

2. Imam Hasan Al-Mujtaba a.s.

3. Imam Husain Sayyid Asy-Syuhada a.s. (keduanya adalah putra Imam Ali dan Sayidah Fatimah a.s. dan cucunda Nabi saw.

4. Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad a.s.

5. Imam Muhammad bin Ali Al-Bagir a.s.

6. Imam Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq a.s.

7. Imam Musa bin Ja’far Al-Khadzim a.s.

8. Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.

9. Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad-At-Taqi a.s.

10. Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi- An-Naqi) a.s.

11. Imam Hasan bin Ali Al-‘Askari a.s.

12. Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi Al-Muntazhar a.s. yang dijanjikan dan dinantikan.

Para ahli sastra unggulan dari luar mazhab Syi’ah, baik dari kalangan Arab ataupun Ajam, telah membuat bait-bait syair secara terinci yang memuat nama-nama 12 imam seperti: Haskafi, Ibnu Thulun, Fadhl bin Ruz Dahan, Al-Jamiy’ Athar Naisyabur dan Maulawi mereka dari pengikut Abu Hanifah, Syafi’i dan selainnya. Di sini kami hanya sebutkan dua kasidah sebagai contoh: pertama kasidah Haskafi Al-Hanafi, ulama abad ke-6 Hijriah:

“Haidar (gelar imam Ali) dan setelahnya Hasan dan Husain, kemudian,

Ali Zainal Abidin dan putranya Muhammad Al-Bagir.

Ja’far Al-Shadiq dan putranya Musa Al-Khazim, dan setelahnya.

Ali (Ar-Ridha) yang menjadi waliyul Ahad, kemudian putranya Muhammad (Al-Jawad).

Kemudian Ali (Al-Hadi) dan putranya yang benar dan jujur, Hasan (Al-Askari).

Yang selanjutnya Muhammad bin Hasan yang di yakini oleh orang-orang bahwa mereka adalah imam-imamku, tuanku.

Meskipun orang-orang mencaciku dan mendustakannya dan mencaci para imam, ketahuilah, muliakanlah mereka para imam yang namanya telah terjaga dan tidak bisa ditolak.

Mereka itu hujah-hujah Allah atas hamba-hamba-Nya mereka adalah jalan dan tempat tujuan.

Mereka di waktu siang berpuasa untuk Tuhan, dan di malam hari mereka ruku' dan sujud di hadapanTuhan-Nya”.

Qasidah yang kedua dari Syamsuddin bin Muhammad bin Thulun Ulama abad ke-10 Hijriah, ia mengatakan :

“Kalian harus berpegang pada 12 imam dari keluarga Musthafa Rasul, sebaik-baik manusia , yaitu...

Abu Thurab (imam Ali), Hasan dan Husain.

Ketahuilah, membenci Ali Zainal Abidin perbuatan tercela…

Muhammad Al-Bagir yang mengetahui betapa banyak ilmu…

Ash-Shadiq yang dipanggil Ja’far di antara manusia …

Musa yang diberi gelar Al-Khazim dan putranya Ali.

Ar-Ridha yang tinggi kedudukannya.

Muhammad At-Taqi yang hatinya penuh dan makmur dengan cahaya dan hikmah.

Ali Al-Naqi yang mutiara-mutiaranya tersebar.

Hasan Al-Askaryi yang telah disucikan.

Dan muhammad Al-Mahdi yang akan muncul.

Sesungguhnya mereka adalah Ahlul Bait, yang berdasar-kan perintah Allah swt, telah ditentukan oleh Nabi saw. sebagai pemimpin umat Islam, karena kemaksuman dan kesucian mereka dari kesalahan dan dosa, dan karena ilmu mereka yang luas yang telah mereka warisi dari sang datuk Nabi saw. yang telah memerintahkan kita untuk mencintai dan mengikuti mereka. Dalam hal ini Allah swt. berfiman:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

“Katakan hai Muhammad, Aku tidak meminta kepada kalian upah atas apa yang aku lakukan kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (QS. Al-Syura [42]:23)

Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]:119)

16. Syi’ah Ja’fariyah meyakini bahwa para imam suci—yang sejarah belum pernah mencatat dari mereka penyele-wengan atau kemaksiatan, baik dalam ucapan atau pun perbuatan—dengan bekal ilmu yang luas telah berkhid-mat kepada umat Islam dan memperkaya mereka dengan pengetahuan yang dalam serta pandangan yang benar dalam akidah, syariat, akhlak, sastra, tafsir, sejarah serta cakrawala masa depan. Demikian juga, mereka telah mendidik atau membina melalui ucapan atau perbuatan sekelompok laki-laki dan perempuan yang unggul di mana semua orang telah mengenal mereka dengan keutamaannya, ilmunya dan kebaikan prilakunya.

Syi’ah Ja’fariyah memandang bahwa meskipun mereka para imam telah dijauhkan dari kedudukan kepemim-pinan politis, tetapi mereka telah menunaikan dan menyampaikan misi intelektual dan tugas sosial mereka dengan sebaik-baiknya, karena mereka telah menjaga dasar-dasar akidah dan pilar-pilar syariat dariancaman penyimpangan.

Sekiranya umat islam memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan peran politik yang telah Rasul berikan kepadanya atas dasar perintah Allah swt., niscaya umat Islam akan mencapai kebahagian dan kemuliaan, serta keagungannya secara penuh, dan mereka akan menjadi satu, bersatu, dan tidak mengalami perpecahan, ikhtilaf dan pertentangan, peperangan, saling bunuh-membunuh, dan mereka tidak hina dan diremahkan.

17. Dengan menunjuk pada dalil-dalil Naqli dan Aqli, yang begitu banyak disebutkan dalam buku-buku Akidah, mereka meyakini bahwa umat Islam hendaknya mengikuti Ahlul Bait Nabi, dan senantiasa berada di jalannya, karena jalan Ahlul Bait adalah jalan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. untuk umat dan beliau telah mewasiatkan kepada umat agar menapaki jalan mereka dan berpegang teguh pada mareka, sebagaimana dalam hadis “Tsaqalain” yang mutawatir, seraya berkata :

“Sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian dua pusaka; kitabullah (Al-Quran) dan keturunanku Ahlul Bait. Selama berpegang teguh pada keduanya,kalian tidak akan tersesat”.

Hadis ini telah diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya dan oleh puluhan ahli-ahli hadis dan ulama-ulama disetiap abad.

Begitu pula, pengangkatan khalifah dan pewasiatan seperti ini adalah hal yang lumrah dalam kehidupan para nabi-nabi terdahulu.

18. Syi’ah Ja’fariyah meyakini bahwa umat Islam hendaknya mendiskusikan dan mempelajari masalah-masalah seperti ini dengan menjauhkan diri dari caci maki, tuduhan yang tak beralasan dan melakukan fitnah. Dan hendaknya para ulama dan cendikiawan dari seluruh kelompok dan golongan umat Islam ber-kumpul dalam muktamar-muktamar ilmiah, mem-pelajari dengan lapang dada dan ikhlas serta dengan semangat persau-daraan dan obyektifitas tentang klaim-klaim saudara-saudara mereka dari kaum Syi’ah Ja’fariah, serta dalil-dalil yang mereka bawakan untuk membuktikan pandangan-pandangannya berdasarkan Al-Quran, hadis mutawatir dari Rasulullah saw., akal sehat, pertimbangan sejarah, keadaan politik dan sosial secara umum pada masa Nabi dan setelahnya.

19. Syi’ah Ja’fariyah meyakini bahwa para sahabat dan orang-orang yang berada di sekeliling Nabi dari kaum laki-laki dan perempuan telah berkhidmat kepada Islam dan mereka telah mengerahkan seluruh jiwa raganya di jalan penyebaran Islam.

Hendaknya umat Islam menghormati mereka, meng-hargai perjuangan dan bakti mereka dan memohon kerelaan mereka. Hanya saja, hal ini tidak berarti menganggap mereka semua sebagai manusia-manusia yang mutlak adil, tidak pula berarti sebagian sikap dan perbuatan-perbuatan mereka tidak bisa dikritik, karena mereka adalah manusia yang bisa salah dan bisa benar.

Sejarah telah menyebutkan bahwa sebagian mereka telah menyimpang dari jalan yang benar meskipun di masa hidup Nabi saw. Bahkan Al-Quran secara eksplisit menyebutkan adanya penyimpangan itu di sebagian surat dan ayat-ayatnya, seperti surat Al-Munafiqun, Al-Ahzab, Al-Hujarat, At-Tahrim, Fath, Muhammad dan At-Taubah.

Kritik yang sehat terhadap suatu golongan tidaklah dinyatakan kafir, karena tolak ukur iman dan kufur sangat jelas, yaitu mengakui atau menafikan tauhid dan kenabian, serta hal-hal yang sangat mudah dimengerti (badihi) dari masalah agama, seperti kewajiban shalat, puasa, haji, haramnya arak, khamar, judi dan hokum-hukum lainnya.

Memang, lidah harus dijaga dari perbuatan mencaci maki, juga pikiran harus dijaga dari cara bernalar yang dangkal, karena hal ini bukanlah karakter seorang muslim yang terdidik, yang mengikuti prilaku Nabi Muhammad saw. Bagaimanapun kebanyakan para sahabat itu adalah orang-orang baik yang layak untuk dihormati dan dimuliakan. Tetapi perlu diketahui bahwa ketundukan mereka pada Qaidah Jarah wa Ta’dil (yaitu sebuah kaidah ilmu Rijal yang mempertimbangkan kualitas kepribadian para perawi hadis, -peny.), yaitu:

Meneliti hadis-hadis Nabi yang shahih, yang dianggap kuat, padahal telah diketahui pula akan banyaknya kebohongan-kebohongan yang telah dinisbatkan kepada Nabi saw., sebagaimana yang telah banyak diketahui. Dan Nabi saw. sendiri telah mengkhabarkan akan terjadinya hal itu, dan kalian pula yang mendorong ulama-ulama kedua kelompok (Sunnah-Syi’ah) seperti; Suyuthi, Ibnu Jauzi dan lain-lain untuk menulis buku-buku yang berbobot yang dapat menyaring antara hadis-hadis yang benar-benar keluar dari Nabi dan hadis-hadis maudhu’ atau palsu.

20. Syi’ah Ja’fariyah meyakini adanya Imam Mahdi a.s. yang dinanti berdasarkan riwayat-riwayat yang begitu banyak dari Nabi saw. yang menyebutkan, bahwa dia dari keturunan Fatimah, dan dia keturunan yang kesembilan dari Imam Husain a.s., karena anak atau keturunan yang kedelapan dari Imam Husain adalah Imam Hasan Al-Askari, yang telah meninggal pada tahun 260 H sedangkan beliau tidak mempunyai anak kecuali anak yang diberi nama Muhammad. Dialah Imam Mahdi a.s. yang diberi panggilan nasab Abul Qasim. Banyak orang-orang terpercaya dari umat Islam yang telah melihatnya. Dan mereka telah meng-kabarkan akan kelahirannya, cirri-ciri khasnya, keimamahannya dan nas dari ayahnya yang me-nunjukkan kepemimpinannya.

Dia telah gaib setelah 50 tahun dari kelahirannya, karena musuh-musuh ingin membunuhnya. Oleh karena itu, Allah swt. menyimpannya untuk menegakkan pemerintahan yang adil, universal pada akhir zaman, dan mensucikan bumi dari kezaliman dan kerusakan setelah dipenuhi oleh keduanya.

Maka tidak aneh dan tidak pula mengherankan akan panjangnya usia beliau dan masih hidup sampai sekarang, meskipun sudah melampaui abad 20 dari kelahirannya. Sebagaimana Nabi Nuh a.s. pernah hidup sampai 950 tahun di tengah umatnya, dan menyeru mereka kepada Allah,atau Nabi Haidir a.s. yang sampai saat ini masih hidup.

Allah swt. Mahakuasa atas segala sesuatu, dan kehendaknya berjalan tanpa ada yang bisa mencegah dan menolaknya. Bukankah Allah swt. telah menegaskan ihwal Nabi Yunus a.s. dalam firmannya:

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Maka, sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai Hari Kebangkitan. (QS. Al-Shaffat [ 37]:143-144).

Sebagian besar ulama Ahli Sunnah meyakini kelahiran Imam Mahdi a.s. dan keberadaannya, dan mereka menyebutkan nama kedua orang tuanya, serta sifat-sifatnya, di antara mereka ialah:

1. Abdul Mu’min Syablanji Al-Syafi’i dalam kitabnya, Al-Abshor fi Manaqibi Nabi al-Muchtar.

2. Ibnu Hajar Haitami Makki Asy-Syafi’i dalam kitabnya Ashowaiq al Muhriqah, seraya menga-takan; Abul Qasim Muhammad Al-Hujjah, ditinggal wafat oleh ayahnya pada usia lima tahun. tetapi Allah swt. memberikan hikmah padanya. Dia juga disebut sebagai “Al-Qaim Al-Muntazhar”.

3. Al-Qunduzi Al-Hanafi Al-Balkhi dalam bukunya, Yanabi al Mawaddah, yang dicetak di ibukota Turki masa Dinasti Otoman.

4. Sayyid Muhammad Shidiq Hasan Al-Qonuji Al-Bukhori dalam kitabnya, Al-Izhaa’ah Liman Kana waman Yakunu baina Yaday Assaa’ah.

Mereka ini termasuk ulama-ulama terdahulu. Adapun dari ulama-ulama mutakhir, seperti; Dr. Musthafa Rafi’i dalam bukunya Islamuna, telah memaparkan masalah ini secara panjang lebar dan menjawab seluruh kritik seputar masalah ini.

21. Kaum Syi’ah Ja’fariyah melakukan shalat, puasa, haji, membayar khumus (1/5) pendapatan mereka, haji ke Mekkah yang mulia, melaksanakan manasik umrah dan haji seumur hidup sekali, sedangadapun dari itu adalah sunnah, memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar, berpihak kepada wali-wali Allah dan Nabinya, dan memusuhi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh Nabi-Nya, berjihad di jalan Allah terhadap setiap orang kafir atau musyrik yang terang-terangan memerangi Islam, dan terhadap setiap orang yang berbuat makar terhadap umat Islam.

Mereka melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi, sosial, keluarga, seperti jual beli, penyewaan, nikah, talak, warisan, pendidikan, menyusui, hijab dan lain sebagainya, sesuai dengan hukum-hukum Islam yang benar dan lurus. Mereka mengamalkan hukum-hukum ini dari proses ijtihad yang dilakukan oleh ulama-ulama ahli fiqih mereka yang warak dengan berdasarkan pada hadis yang shahih, hadis-hadis Ahlul Bait, akal dan konsensus (ijma’) ulama.

22. Mereka percaya bahwa setiap kewajiban yang bersifat harian, memiliki waktu tertentu, dan waktu-waktu shalat harian adalah Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Yang paling penting adalah melakukan setiap shalat pada waktunya yang khusus. Hanya saja, mereka melakukan jamak antara dua shalat Zuhur dan Ashar dan antara Magrib dan Isya karena Rasulullah saw. melakukan jamak dua shalat tanpa uzur, tanpa sakit dan tanpa berpergian, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim dan kitab hadis lainnya, “Sebagai keringanan untuk umat serta untuk mempermudah bagi mereka”. Dan itu telah menjadi masalah biasa pada masa kita sekarang ini.

23. Mereka mengumandangkan azan sebagaimana azannya umat Islam yang lain. hanya saja mereka sebutkan setelah hayya ‘alal falah dengan redaksi hayya ‘ala khairil ‘amal, karena telah ada sejak zaman Nabi saw. Hanya saja, pada zaman Umar bin Khaththab, kalimat itu dihapus atas dasar ijtihad pribadinya, dengan alasan bahwa hal itu dapat memalingkan umat Islam dari berjihad. Padahal mereka tahu bahwa shalat adalah sebaik-baik perbuatan (sebagaimana pengakuan Allamah Qusyji Al-Asy‘ari dalam kitab Syarah Tajrid Al-I'tiqad,Al-Mushannaf, karya Al-Kindi, Kanz Al-Ummal karya Muttaqi Hindi, dll. Umar bin Khaththab telah manambahkan sebuah redaksi Ashalatul khairul minanauum sementara kalimat itu tidak pernah ada pada zaman Nabi saw.

Dan sesungguhnya ibadah, dan muqaddimah-muqaddimahnya dalam Islam itu harus berdasarkan kepada perintah dan izin syariat yang suci. Artinya, segalanya harus berlandaskan pada nas yang khusus ataupun yang umum dari Al-Quran dan hadis. Bila tidak, maka hal itu dikatakan sebagai bid’ah yang harus ditolak.

Oleh karena itu, dalam ibadah, bahkan dalam setiap masalah syariat tidak boleh ada penambahan atau pengurangan dengan pendapat pribadi.

Adapun apa yang ditambahkan Syi’ah Ja’fariyah setelah syahadah kepada Rasulullah saw. (Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah),berupa kalimat Asyhadu anna Aliyan waliyullah karena adanya riwayat-riwayat dari Nabi saw. dan Ahli Baitnya a.s. yang menjelaskan bahwa tidaklah disebutkan kalimat Muhammad Rasulullah atau tidaklah ditulis kalimat tersebut di atas pintu surga, kecuali diikuti dengan kalimat (‘Aliyan waliyullah), yaitu sebuah kalimat yang menjelaskan bahwa Syi’ah tidak mempercayai kenabian Ali bin Abi Thalib, apa lagi sampai mengatakan ketuhanannya. Karenanya, diperbolehkan untuk membaca kalimat itu setelah dua syahadat, dengan niat bahwa itu tidak termasuk bagian atau kewajiban dari azan. Inilah pendapat mayoritas ulama-ulama ahli fiqih Syi’ah Ja'fariyah.

Oleh sebab itu,kalimat tambahan yang dibaca ini bukan bagian dari azan sebagaimana yang telah kami katakan, dengan demikian bukan termasuk dari yang tidak ada pada mulanya dalam syariat, tidak pula termasuk bid’ah.

24. Mereka sujud di atas tanah , debu, kerikil, atau di atas batu dan apa saja yang termasuk bagian dari bumi atau tanah dan yang tumbuh di atasnya, seperti tikar yang bukan terbuat dari kain dan bukan pula yang dimakan, dan yang manis. Karena ada banyak riwayat di dalam sumber-sumber Syi’ah dan Ahli Sunnah, bahwa kebiasaan Rasul saw. adalah sujud di atas debu atau tanah, bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk mengikutinya.

Suatu hari, Bilal sedang sujud di atas serban (ammamah), karena takut akan panas yang menyengat. Maka Nabi menarik ammamah dari dahinya dan berkata: “Ratakan dahimu dengan tanah wahai Bilal !”. Begitu juga, Nabi pernah mengatakan pada Shuhaib dan Rabah dalam sabdanya: “Ratakan wajahmu wahai Shuhaib dan ratakan pula wajahmu wahai Rabah !”.

Sebagaimana yang disebutkan dalam Bukhari dan lainnya, Nabi saw. juga bersabda: “Bumi atau tanah ini telah dijadikan untukku sebagai tempat sujud yang suci”.

Oleh karena sujud dan meletakkan dahi di atas tanah, tatkala sujud merupakan hal yang paling layak dihadapan Allah swt, karena hal itu menghantarkan kepada kekhusyukan dan sarana terdekat untuk merendahkan diri di depan Tuhan, juga dapat mengingatkan manusia akan asal wujudnya. Bukankah Allah swt. berfiman:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Dari bumi (tanah) itulah kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan kembalikan kamu sekalian, serta darinya kami akan mengeluarkan (membangkitkan) kamu pada kali yang lain. (QS. Thaha [20]:55)

Sesungguhnya sujud adalah puncak ketundukan yang tidak bisa terealisir dengan sujud di atas sajadah, karpet atau batu-batuan permata yang berharga. Puncak ketundukan itu hanya terealisir dengan meletakkan anggota badan yang paling mulia yaitu dahi, di atas benda yang paling murah dan sederhana, yaitu tanah.[9]

Tentunya, debu tersebut harus suci. Orang-orang Syi’ah selalu membawa sepotong dari tanah yang sudah dipres dan sudah jelas kesuciaannya. Mungkin juga tanah ini diambil dari tanah yang penuh berkah, seperti tanah Karbala. Di sanalah Imam Husain (cucu Rasulullah saw.) gugur sebagai syahid sehingga tanah itu penuh berkah. Sebagaimana sebagian sahabat Nabi menjadikan batu Mekkah sebagai tempat sujud dalam perjalanan-perjalanan mereka dan untuk mendapatkan berkahnya.

Meski demikian, Syi’ah Ja’fariyah tidak memaksakan hal itu, juga tidak menyatakannya sebagai suatu keharusan. mereka hanya membolehkan Sujud diatas batu apa saja yang bersih dan suci seperti lantai masjid Nabawi yang mulia dan lantai Masjidil Haram.

Begitu juga, tidak bersedekap (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) sewaktu shalat, karena Nabi saw. tidak pernah melakukan hal itu, juga karena tidak ada nas yang kuat dan jelas yang menganjurkan hal itu. Karenanya, penganut mazhab Maliki tidak melakukan sedekap tersebut.[10]

25. Syi’ah Ja’fariyah berwudhu dengan membasuh kedua tangan; dari siku-siku sampai ujung jari-jari, bukan kebalikannya, karena mereka mengambil cara berwudhu para imam Ahlul Bait yang telah mengambilnya dari Nabi saw. Tentunya, para imam lebih mengetahui dari pada yang lainnya terhadap apa yang dilakukan oleh kakek mereka. Rasulullah saw. Telah berwudhu dengan cara demikian itu, dan tidak menafsirkan kata (Ilaa/ الی) dalam ayat wudhu (Al-Maidah [5]: 6) dengan kata (ma’a/ مع) hal ini juga ditulis Imam Syafi’i dalam kitabnya, Nihâyatul Muhtaj. Begitu juga, mengusap kaki dan kepala mereka atau tidak membasuhnya ketika berwudhu, dengan alasan yang sama yang telah dijelaskan di atas. Juga karena Ibnu Abbas mengatakan: “Wudhu itu dengan dua basuhan dan dua usapan”.[11]

26. Syi’ah Ja’fariyah membolehkan nikah mut’ah berdasar-kan nash Al-Quran, sebagaimana dalam firman-Nya:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

Maka istri-istri yang telah kalian nikmati di antara mereka, berikanlah mahar mereka sebagai suatu kewajiban.(QS. An-Nisa [4]:24)

Di samping itu, para sahabat dan orang-orang Islam pada masa Rasulullah saw. sampai pertengahan masa khilafah Umar bin Khaththab telah melakukan nikah mut’ah.

Mut’ah adalah pernikahan syar’i yang persyaratannya sama dengan nikah permanen atau da’im, yaitu:

b. Hendaknya pihak wanita tersebut tidak bersuami, dan membaca shighah ijab, sementara pihak laki-laki melaksanakan shighah Kabul.

c. Pihak laki-laki wajib memberikan harta kepada wanita, yang disebut mahar dalam nikah da’im dan dalam nikah mut’ah disebut upah, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran.

d. Wanita harus menjalani iddah (setelah cerai dengan suaminya).

e. Wanita harus menjalani ‘iddah setelah masa mut’ahnya habis. apabila ia melahirkan seorang anak, maka, nasab anak itu ikut kepada ayahnya. Juga seorang wanita hanya dapat memiliki satu suami saja.

f. Dalam pewarisan antara anak dan ayahnya, anak dan ibunya dan begitu juga sebaliknya.

Yang membedakan nikah da’im dengan nikah mut’ah adalah bahwa dalam nikah mut’ah terdapat penentuan masa, tidak adanya kewajiban memberikan nafkah dan masa gilir atas suami untuk sang istri mut’ah, tidak adanya saling mewarisi antara suami dan istri, tidak perlu adanya talak, tetapi cukup dengan habisnya masa yang telah ditentukan, atau menghibahkan sisa masa yang telah di tentukan tersebut.

Hikmah disyariatkannya nikah semacam ini adalah tuntunan yang disyariatkan dan bersyarat untuk kebutuhan biologis laki-laki dan perempuan yang tidak mampu menjalankan setiap kewajiban-kewajiban dalam nikah da’im (permanen), atau karena adanya halangan dari istri yang terjadi akibat kematian atau sebab yang lainnya, begitu pula sebaliknya. Semua ini masih dalam rangka membina kehidupan yang terhormat dan mulia. Maka itu, nikah mut’ah adalah solusi tingkat pertama bagi kebanyakan problematika sosial yang cukup serius dan berbahaya, dan juga untuk mencegah terperosoknya masyarakat Islam dalam kerusakan dengan menghalalkan segala macam cara.

Terkadang, nikah mut’ah digunakan dengan tujuan agar kedua calon suami istri saling mengenal sebelum memasuki jenjang pernikahan permanen. Hal ini dapat mencegah perjumpaan yang diharamkan, zina, meng-kebiri, atau cara-cara lain yang diharamkan seperti onani, bagi orang yang tidak sabar atas satu orang istri atau lebih dari satu, misalnya, secara ekonomi dan nafkahnya , serta pada saat yang sama dia tidak ingin terjerumus kepada yang haram.

Yang jelas, nikah mut’ah bersandar pada Al-Quran dan sunnah, dan sahabat pernah melakukan itu selama beberapa masa. Kalau sekiranya mut’ah itu adalah zina, maka itu berarti Al-Quran, Nabi dan para sahabat telah menghalalkan zina dan para pelakunya telah berbuat zina dalam masa yang cukup lama. Kami berlindung kepada Allah dari keyakinan seperti ini.

Di samping itu juga, penghapusan hukum nikah mut’ah tersebut tidak berdasarkan Al-Quran dan sunnah, dan tidak ada dalil yang kuat dan jelas.[12]

Akan tetapi, meskipun Syi’ah Ja'fariyah menghalal-kan nikah seperti inu, dengan adanya nash Al-Quran dan sunnah, mereka sangat menganjurkan dan mengutama-kan nikah daim dan menegakkan nilai-nilai keluarga, karena hal itu adalah dasar dan pilar masyarakat yang kuat dan sehat, dan tidak condong kepada nikah sementara yang dalam bahasa syariat dinamakan mut’ah, meskipun halal dan disyariatkan.

Sehubungan dengan itu, Syi’ah Imamiyah bersandar pada Al-Quran, hadis dan pendidikan serta nasehat-nasehat Imam-Imam Ahlul Bait a.s. yang menyembunyi-kan segala penghormatan untuk wanita dan memberikan nilai yang besar kepadanya, dan di bidang kedudukan wanita, masalah-masalahnya serta hak-haknya, terutama dalam pergaulan etika bersamanya, seperti; kepemilikan, nikah, talak, pengasuhan, penyusuan, ibadah, mu’amalat (hukum-hukum syar’i yang mengatur hubungan kepen-tingan individual dan layak untuk di cermati dalam riwayat-riwayat para imam dan fiqih mereka).

27. Syi’ah Ja’fariyah mengharamkan zina, homoseks, riba, membunuh orang yang terhormat, minuman arak, judi, melanggar janji, penipuan, pemalsuan, penimbunan, penyelewengan, ghasab, pencurian, khianat, dendam, bernyanyi dan menari, memfitnah dan menuduh, adu domba, berbuat kerusakan, mengganggu orang mukmin, mengumpat, mencaci-maki, berdusta dan dosa-dosa lainnya,baik yang kecil ataupun yang besar.

Mereka selalu berusaha untuk selalu menjauhi semua itu, dan mengerahkan segala upayanya untuk mencegah itu, agar tidak sampai menimpa masyarakat dengan berbagai sarananya, seperti menyebarkan buku-buku dan masalah-masalah etika dan pendidikan, serta mendirikan acara-acara pengajian, khotbah jum’at dan lain sebagainya.

28. Mereka peduli pada keutamaan dan kemuliaan akhlak, selalu menyambut nasehat dan antusias dalam mende-ngarkannya. Mereka mengadakan majelis-majelis dan acara-acara di rumah-rumah, masjid-masjid dan tempat-tempat lainya dalam acara peringatan-peringatan hari-hari besar dan peringatan-peringatan lainnya untuk tujuan tersebut, karena kecintaan mereka akan nasehat. Karena itu, mereka mencurahkan doa-doa yang memiliki manfaat yang besar, kandungannya agung, yang datang dari Rasulullah saw. dan para Imam yang suci a.s. Ahlul Bait Nabinya, seperti; doa Kumail, doa Abu Hamzah, doa Simaat, dan Jausyan Kabir (doa yang mencakup seribu nama dari nama-nama Allah swt.), doa Makarimul Akhlak, doa Iftitah (yang dibaca setiap bulan Ramadhan). Mereka membaca doa-doa dan munajat-munajat yang amat agung kandungannya ini dengan penuh kekhusyu-kan dan dalam suasana yang penuh dengan tangisan dan kerendahan diri, karena hal itu dapat membersihkan jiwa-jiwa mereka, serta dapat mendekatkan mereka kepada Allah swt.[13]

29. Mereka memberikan perhatian besar pada kuburan-kuburan Nabi saw., para imam Ahlul Bait Nabi, yang dikubur di Baqi’, Madinah Al-Munawarah yang mana disana ada kuburan Imam Hasan Al-Mujtaba, Imam Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad Al-Bagir dan Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Di Najaf, Irak, terdapat kuburan Imam Ali bin Abi Thalib a.s, dan di Karbala, kuburan Imam Husain bin Ali a.s. beserta saudara-saudaranya, anak-anaknya, anak-anak pamannya dan para sahabatnya yang syahid bersamanya pada Hari Asyura. Juga di Samarra terdapat kuburan Imam Al-Hadi a.s. dan Imam Hasan Al-Askari a.s.

Di Kazhimain terdapat kuburan Imam Al-Jawad a.s. dan Imam Musa Al-Kazhim a.s. Semua itu berada di Irak. Dan di kota Masyhad-Iran, terdapat pusara Imam Ali Al-Ridha a.s., serta di kota Qom dan Syiraz kuburan putra-putri beliau. Di Damaskus, Syiria, ada kuburan pahlawan wanita Karbala yaitu Sayyidah Zainab a.s. Di Kairo, Mesir, ada kuburan Sayyidah Nafisah a.s. Hal itu karena penghormatan mereka kepada Rasulullah saw, karena seorang laki-laki itu terjaga dalam keturunannya, dan mengormati keturunan tersebut berarti menghor-mati orang tersebut, Al-Quran telah menyanjung mereka dan sebagian mereka ada yang bukan Nabi, Al-Quran mengatakan:

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ

Yaitu serta keturunan yang sebagiannya (keturunan) dan yang lain. (QS Ali Imran [3]:34).

Yaitu, kami akan membangun dan mendirikan di atas kuburan-kuburan Ashabul Kahfi tempat peribadatan untuk menyembah Allah swt. di sisi mereka. Dan Al-Quran mensifati perbuatan mereka dengan syirik, pertama, karena seorang muslim yang beriman akan berukuk dan bersujud hanya kepada Allah dan menyembah hanya kepada-Nya semata.

Seorang mukmin tidak akan datang ke makam wali-wali Allah yang telah Allah sucikan, kecuali karena kemuliaan dan kesucian tempat tersebut dengan adanya mereka, sebagaimana yang terjadi pada makam Ibarahim a.s. yang memiliki kesucian dan kemuliaan, Allah swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 125 berfirman:

وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Dan jadikanlah maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim diwaktu membangun Ka’bah) tempat mendirikan shalat. (QS. Al Baqarah [2]:125)

Tidak orang yang shalat di belakang makam itu berarti telah menyembah makam, juga orang yang beribadah kepada Allah swt. dengan Sa’i (lari-lari kecil dalam haji) antara bukit Shafa dan Marwah bukanlah orang yang menyembah dua gunung. Sesungguhnya Allah swt. memiliki tempat yang suci dan penuh berkah untuk beribadah kepada-Nya, karena hal itu di nisbatkan kepada Allah swt. sendiri dalam kembali kepada-Nya.

Begitu juga waktu-waktu dan tempat itu juga memiliki kesucian, seperti hari Arafah, tanah Mina. Sebab kesucian tempat-tempat dan hari-hari itu adalah karena dinisbatkan kepada Allah swt.

30. Karena sebab ini pula, Syi’ah Ja’fariyah mempunyai perhatian sebagaimana umat Islam lainnya, yang sadar dan mengerti kedudukan Rasullah saw. beserta keluarga beliau yang suci, yaitu dengan berziarah ke kuburan Ahlul Bait Nabi karena kemuliaan mereka, dan mengam-bil pelajaran dari mereka, serta memperbaharui bai’at kepada mereka dan sebagai pengokohan perjuangan mereka dan tugas-tugas mereka. Karena, mereka telah mencapai kesyahidan saat menjaga nilai-nilai luhur ter-sebut. Para penziarah makam-makam ini akan mengingat dan mengenang keutamaan-keutamaan sahabat yang disebutkan dalam riwayat tersebut, juga tentang perjuangan mereka, penegakan mereka terhadap shalat, zakat dan tugas yang mereka pikul, dan bersabar atas gangguan dan siksaan dalam mengemban tugas tersebut. Di samping itu, melakukan demikian karena keikut-sertaan dalam kesedihan Nabi lantaran kemazluman (keteraniayaan) keturunan beliau.

Bukankah beliau yang mengatakan dalam peristiwa kesyahidan Hamzah “akan tetapi, Hamzah tak ada seorang yang menangisinya”, sebagaimana tercatat dalam buku-buku sejarah. Dan bukankah Nabi Muhammd saw. telah menangis saat kematian putra beliau; Ibrahim?, bukankah Nabi saw. sering pergi ke Baqi’ untuk ber-ziarah?. Bukankah Nabi saw. telah mengatakan: “Ziarahilah kubur! karena itu mengingatkan kalian kepada akherat”.[14]

Memang, menziarahi kubur para Imam Ahlul Bait a.s. dan apa yang telah disebutkan dalam sejarah mereka, sikap jihad dan perjuangan mereka mengingatkan dan memberikan pendidikan kepada generasi-generasi beri-kutnya tentang apa yang telah disumbangkan oleh para orang besar mereka di jalan Islam dan kaum muslim, dan tentang pengorbanan mereka yang begitu besar. Begitu juga, hal itu dapat menanamkan ruh dan jiwa kesatria serta jiwa pengorbanan dan kesyahidan di jalan Allah swt.

Sesungguhnya hal itu adalah suatu perbuatan manusiawi yang berperadaban dan logis. Maka tidaklah aneh bila umat-umat itu berupaya mengabadikan tokoh-tokoh besar dan para pencetus peradaban mereka, serta menghidupkan acara-acara yang mengenang jasa mereka dengan segala bentuk dan coraknya. Karena demikian itu dapat membangkitkan kebanggaan dan penghormatan terhadap perjuangan mereka, mengundang umat-umat yang lain untuk bergabung bersamanya.

Dan itulah yang diharapkan Al-Quran ketika menjadikan ayat-ayatnya kepada tempat-tempat para Nabi, wali, dan orang-orang shalihin serta menyebutkan kisah-kisahnya.

31. Syi’ah Ja’fariyah meminta syafaat kepada Rasulullah saw. dan para Imam Ahlul Bait yang suci, serta berwasilah melalui mereka kepada Allah swt. untuk pengampunan dosa-dosa, pengkabulan hajat, penyembuhan orang-orang yang sakit, karena Al-Quran yang membolehkan hal itu dan bahkan menganjurkannya, seraya berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya sendiri (berhakim kepada selain dari Nabi) datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rosul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.(QS. Al Nisa [4]:64)

Dan dalam ayat yang lain juga di sebutkan :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hati kamu menjadi puas. [QS. Al Dhuha/93: 5] Yakni kedudukan syafaat.

Bagaimana masuk akal Allah swt. akan memberikan kepada Nabi-Nya kedudukan syafa’at untuk orang-orang berdosa dan memberikan maqam wasilah (perantara) bagi orang-orang yang memiliki hajat kemudian dia menolak manusia yang meminta syafa’at darinya, atau dia akan melarang Nabi-Nya untuk menggunakan kedudukan ini?!

Bukankah Allah telah menceritakan kepada anak-anak Ya’qub, yaitu di saat mereka meminta syafaat dari orang tuanya dan berkata:

يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ

Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah. (QS. Yusuf [12]:97)

Maka, Nabi Ya’qub tidak menolak permohonan mereka, dan menjawab:

سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ

Aku akan memohonkan ampun untuk kalian kepada tuhanku. (QS. Yusuf [12]:98)

Tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa Nabi saw. dan para Imam Maksum a.s. adalah orang-orang yang telah mati, lantas orang itu meminta doa dari mereka kemudian tidak ada faedahnya. Mengapa?, karena para Nabi saw. itu hidup, khususnya Rasulullah saw. Yang telah dinyatakan di dalam Al-Quran:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian pula kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasulullah menjadi saksi atas perbuatan kalian. (QS. Al-Baqarah [ٰ2]:143)

Juga ditegaskan:

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Dan berbuatlah, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu .(QS. Al-Taubah[9]:105)

Ayat-ayat ini akan terus berlaku sampai Hari Kiamat, selama matahari dan bulan beredar, serta malam dan siang silih berganti. Di samping itu, karena Nabi dan para imam Ahlul Bait a.s. adalah orang-orang yang syahid (penyaksi), dan dalam pandangan Al-Quran, mereka hidup sebagaimana Allah swt. mengatakannya dalam banyak ayat.

32. Syi’ah Ja’fariyah mengadakan peringatan atas kelahiran Nabi dan para Imam Ahlul Baitnya. Mereka mendirikan peringatan atas hari wafat manusia-manusia suci itu mereka dengan tujuan mengenang keutamaan mereka, kebajikan mereka dan sikap mereka yang bijak dan terpuji, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang sahih dan sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh Al-Quran dalam menunjukkan kebajikan dan keutamaan Nabi saw. dan para rasul lainnya. Al-Quran telah memuji mereka serta mengarahkan perhatian umat islam kepada mereka supaya bisa mencontoh, mengikuti dan mengambil pelajaran dari mereka.

Memang, Syi’ah Ja’fariyah dalam acara-acara ini sangat menghindari perbuatan-perbuatan yang diharamkan, seperti percampuran majelis antara laki-laki dan perempuan, makanan dan minuman yang diharamkan, berlebihan dalam memuji, yakni mengangkat manusia sampai kepada tingkat pengultusan, atau menyakini bahwa dia dapat berbuat sesuatu di luar kehendak Tuhan, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani, dan lain sebagainya dari tindakan-tindakan dan kepercayaan-kepercayaan yang berten-tangan dengan ruh syariat Islam yang suci, dan melampui batas-batas yang sudah jelas, atau tidak sesuai dengan ayat atau riwayat yang sahih, atau tidak sesuai dengan kaidah umum yang telah disimpulkan dari Al-Quran dan hadis, secara benar.

33. Syi’ah Ja’fariyah mengunakan buku-buku hadis yang mencakup hadis Nabi saw. dan Ahlul Baitnya a.s. seperti Al-Kâfi karya Kulaini, Al-Istibshar dan Tahdzib karyaThusi, serta Man La Yahduru Al Faqih oleh Syeikh Shaduq. Buku-buku tersebut sangat bernilai sekali di bidang hadis. Hanya saja, meskipun buku-buku tersebut mencakup hadis-hadis sahih. Para penulis atau pengarangnya dan orang-orang Syi’ah Ja’fariyah sendiri tidak memutlak-kan dengan judul shahih, karena para ulama fiqih tidak meyakini kesahihan seluruh hadisnya, mereka hanya mengambil hadis-hadis tersebut bila dari beberapa sudut pandang telah terbukti kesahihannya dan meninggalkan riwayat-riwayat yang tidak dianggap sahih, atau akan mengambil hadis-hadis tersebut yang, menurut ilmu Dirayah, ilmu Rijal dan kaidah-kaidah ilmu Hadis, tidak bermasalah dan tidak cacat.

34. Begitu juga di bidang Akidah, Fiqih, Doa dan Akhlak, mereka menggunakan buku-buku lain yang di dalamnya terdapat aneka macam riwayat dari imam-imam Ahlul Bait a.s. seperti kitab Nahj Al-Balâghah yang dicatat oleh Sayyid Murtadha dari kumpulan-kumpulan khutbah Imam Ali, surat-suratnya, hikmah-hikmah pendeknya, Risâlah Al-Huquq, Shahifah Sajjadiyah karya imam Ali Zainal Abidin a.s. At-Tauhid, Al-Khisyâ, ‘Ilâlu Asy-Syara’i dan Ma’ani Al-Akhbâr karya Syeikh Shaduq.

35. Terkadang, Syi’ah Ja’fariyah bersandar pada hadis-hadis shahih Rasulullah saw. yang terdapat di dalam buku-buku atau sumber-sumber hadis Ahli Sunnah wal Jamaah. Perlu diketahui pula, bahwa Syi’ah Imamiah juga seperti Ahli Sunnah; mereka mengambil apa-apa yang datang dari Nabi, baik berupa ucapan, perbuatan atau-pun restu Nabi, termasuk juga riwayat tentang wasiat Nabi berkenaan dengan hak Ahlul Baitnya. Dan mereka berpegang teguh kepadanya, baik di bidang akidah maupun di bidang fiqih. Bukti yang paling jelas adalah adanya buku-buku hadis mereka, khususnya yang baru diterbitkan akhir-akhir ini, dalam bentuk Ensiklopedia terperinci yang terdiri lebih dari 10 jilid, mencakup riwayat-riwayat Nabi saw. dari sumber-sumber Syi’ah yang diberi nama Sunan Nabi (sunnah-sunnah Nabi saw.) dalam berbagai bidang tanpa fanatisme buta juga sebagai bukti, adanya karangan-karangan mereka baik yang dahulu maupun yang baru.

Dan banyak didapati hadis-hadis dari sahabat-sahabat Nabi saw., istri beliau, sahabat-sahabat yang masyhur serta perawi-perawi besar, seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik dan nama-nama lainnya dengan syarat shahih dan tidak bertentangan dengan Al-Quran dan riwayat shahih lainya, juga tidak bertentangan dengan akal budi dan ijma’ ulama.

36. Syi’ah Ja’fariyah memandang bahwa bencana yang telah menimpah umat Islam dahulu maupun sekarang adalah disebabkan dua fakta:

Pertama: Umat Islam tidak mengenal Ahlul Bait Nabi a.s. sebagai pemimpin yang memiliki kelayakan untuk memimpin, dan juga karena mereka tidak mengetahui Ahlul Bait sebagai pembimbing dan pengajar memberi pengetahuan, khususnyasebagai penafsir Al-Quran.

Kedua: Adanya perpecahan di antara mazhab dan golongan-golongan Islam.

Karena itu, Syi’ah Ja’fariyah berupaya selalu untuk menyatukan barisan umat Islam dan mengulurkan jabat persaudaraan dan cinta kasih kepada sesama, dengan cara menghormati hasil-hasil ijtihad ulama dari golongan dan mazhab serta menghormati kesimpulan hokum mereka.

Dalam hal ini, ulama Syi’ah Ja’fariyah sejak abad pertama telah terbiasa dalam membawakan pendapat-pendapat ulama fiqih selain Syi’ah dalam karya-karya tulis mereka, baik di bidang Fiqih, Tafsir maupun Teologi, seperti buku Al-Khilaf (di bidang fiqih) karya Syaikh Thusi, Majma Al Bayan (di bidang tafsir) karya Thabarsi yang telah mendapatkan pujian ulama Al-Azhar, juga Tajrid Al-‘Itiqad (di bidang teologi karya Nashiruddin Thusi yang telah diberi syarah oleh Alauddin Al-Qusyji Al-Asy’ari dari ulama Ahli Sunnah.

37. Ulama Syi’ah Ja’fariyah memandang penting adanya dialog di antara ulama berbagai mazhab di bidang Fiqih, Akidah dan Syariat, juga memandang penting upaya saling memahami untuk mengatasi problema-problema umat Islam dewasa ini, menjauhi segala bentuk tuduhan yang tak beralasan, serta menjauhi sikap saling mencaci-maki, sehingga tercipta kondisi yang stabil guna mewu-judkan pendekatan yang logis antara golongan-golongan umat Islam, dan guna menutup jalan bagi musuh-musuh Islam dan muslimin yang selalu mencari celah-celah yang tepat untuk menghantam habis seluruh umat Islam.

Oleh karena itu, dalam Islam, Syi’ah Ja’fariyah tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat, apapun mazhab fiqih dan aliran akidahnya, kecuali dalam perkara yang umat Islam sepakat atas pengkafirannya. Syi’ah Ja’fariyah tidak memusuhi mereka, tidak mengizinkan untuk menguasai mereka, menghormati ijtihad masing-masing golongan dan mazhab. Syi’ah Ja’fariyah meman-dang benar perbuatan orang yang berpindah mazhabnya kepada Syi’ah Ja’fariyah, dan telah gugur dari kewaji-bannya jika perbuatan-perbuatannya sesuai dengan mazhab sebelumnya dalam shalat, puasa, haji, zakat, nikah, talak, jual-beli dan lainnya, serta tidak wajib mengqadha kewajiban-kewajiban yang lalu. Syi’ah juga tidak mewa-jibkannya untuk memperbaharui akad nikah atau talaknya selama pelaksanaan dua hal ini pada mulanya sesuai dengan mazhab yang dianutnya.

Kaum Syi’ah hidup bersama-sama dengan saudara-saudara muslim yang lain di setiap tempat, sebagaimana layaknya saudara dan kerabat sendiri.

Memang, mereka tidak sepakat dengan mazhab penjajah, seperti aliran Bahaiyah dan Qodiani, atau mazhab-mazhab yang serupa dengan mereka, bahkan berupaya memerangi mereka dan mengharamkan untuk bergabung dengan mereka.

Dan Syi’ah Ja’fariyah menggunakan taqiyah, yaitu menyembunyikan sesuatu yang penting dari ajaran mazhab dan keyakinannya, dan itu sering dilakukan oleh mazhab-mazhab yang lain dalam situasi kemelut antara golongan yang penting. Taqiyah dilakukan karena dua faktor:

Pertama: menjaga jiwa dan darah mereka supaya tidak tertumpahkan begitu saja.

Kedua: menjaga persatuan umat Islam dan tidak menimbulkan perpecahan.

38. Syi’ah Ja’fariyah memandang bahwa di antara sebab-sebab kemunduran umat Islam dewasa ini ialah kemunduran pemikiran, budaya, pengetahuan, sains dan teknologi. Dan jalan keluarnya adalah menyadarkan umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, serta mengang-kat taraf pemikiran, budaya dan sainsnya dengan cara menciptakan pusat-pusat pengembangan ilmiah, seperti universitas-universitas, pesantren-pesantren, serta meng-gunakan hasil-hasil ilmu modern dalam mengatasi persoalan ekonomi, pembangunan fisik dan teknologi, serta menanamkan kepercayaan diri pada jasa-jasa putra bangsa untuk ikut serta terjun di lapangan dan aktif hingga terwujud swasembada dan kemandirian dan mengikis kebergantungan kepada Barat.

Oleh karena itu, Syi’ah Jafariyah di mana saja mereka berada, telah pembangunan pusat-pusat ilmiah, pendi-dikan dan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan untuk melahirkan ahli-ahli dan para pakar di berbagai cabang ilmu, sebagaimana mereka telah masuk di berbagai universitas dan di berbagai lembaga pendidikan di seluruh negara, dan sebagian telah menghasilkan ulama-ulama dan pakar-pakar di berbagai bidang dan kancah kehidupan yang telah menjadi pusat-pusat ilmiah tersebut.

39. Syi’ah Ja’fariyah senantiasa menjalin hubungan dengan ulama-ulama dan ahli-ahli fiqih mereka lewat apa yang dinamakan “taqlid” dibidang hukum-hukum. Mereka merujukkan problem-problem fiqihnya kepada para mujtahid, dan mereka beramal dalam seluruh aspek kehidupan mereka sesuai dengan fatwa-fatwa ahli-ahli fiqih mereka. Karena, ahli-ahli fiqih dalam pandangan mereka adalah wakil-wakil Imam Zaman a.s. Oleh karena itu, ulama-ulama dan fuqaha mereka tidak bersandar kepada negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan dalam urusan kehidupan dan ekonomi. Mereka mendapatkan kepercayaan yang besar dari para pengikut mazhab yang besar ini.

Perekonomian hauzah-hauzah (pesantren) ilmiah dan pusat pendidikan agama dalam rangka menghasilkan para fuqaha ditanggung dan ditutupi dari khumus dan zakat yang ditunaikan oleh masyarakat kepada para fuqaha, sebagai kewajiban dari sekian kewajiban syariat lainnya, seperti shalat dan puasa.

Dalam masalah kewajiban membayar khumus dari keuntungan usaha, Syi’ah Ja’fariyah memiliki dalil-dalil yang jelas yang termuat dalam sejumlah kitab-kitab shahih dan sunan.[15]

40. Syi’ah Ja’fariyah memandang bahwa termasuk hak umat Islam ialah hidup dibawah naungan pemerintahan-pemerintahan Islam yang member-lakukan huku-hukum sesuai dengan Al-Quran dan hadis, menjaga hal-hak kaum muslimin dan menyelenggarakan hubungan yang adil dan bersih dengan negara-negara lain. Selain itu, Pemerintahan Islam juga berupaya menjaga batas-batasnya dan menjamin kebebasan umat Islam dalam kegiatan budaya, ekonomi, dan politik supaya mereka bisa hidup secara mulia, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah inginkan dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

Segala kemulyaan hanyalah milik Allah dan Rasulnya dan orang-orang yang beriman. (QS. Al-Munafiqun [63]:8)

Juga dalam firmannya:

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Janganlah kamu merasa lemah, jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran [3]:139)

Syi’ah Ja'fariyah Imamiyah memandang bahwa Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna yang mengandung program yang sangat tepat mengenai sistem perundang-undangan. Dan ulama Islam harus berkumpul untuk membahas program ini untuk men-jelaskan gambaran yang sempurna tentang undang-undang ini, supaya umat Islam ini keluar dari kebim-bangan dan dari problem yang terus berkepanjangan. Hanya Allah swt. sebagai pembela dan penolong,

إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Bila kalian menolong Allah, Dia akan menolong kalian dan mengokohkan langkah-langkah kalian. (QS. Muhammad [47]:7)

Dalam pandangan Syi’ah Imamiah, ini merupakan paling jelasnya langkah dan rencana di bidang akidah dan syariat atau dikenal juga dengan sebutan Syi’ah Jafariyah.

Saat ini para pengikut Syi’ah Imamiyah hidup berdampingan dengan saudara muslim yang lainya di seluruh negara-negara Islam, dan mereka gigih dalam menjaga dan mempertahankan eksistensi umat Islam dan kemuliaannya. Mereka juga telah siap untuk menyum-bangkan dan mengorbankan jiwa dan harta bendanya di jalan Allah swt.[]

[1] . Lihat Tafsir Thabari, Jami Al-Bayan dan Suyuthi Asy-Syafi’i atau dalam tafsirnya Ad-Dur Al-Mantsur, Alusyi Al-Bagdadi asy-Syafi’i dalam tafsirnya Ruh Al-Ma’ani, sekaitan dengan tafsir ayat tersebut.

[2] . Musnad Ahmad: jilid 1, hal 215.

[3] . Shahih Bukhâri- kitab al- adab: 27.

[4] . Lihat buku Ta’sisu Syi’ah lil ulum Al-Islami, karya Sayyid Hasan Ash-Shadr dan Zari’ah ilaa Tashonif karya Aghâ Buzurg, yang terdiri dari 29 jilid, Kasyfu Zhunuun karya Afandy, Mu’jam lil Muallifiin karya Kuhala, dan A’yanu Syi’ah karya Sayyid Muhsin Al-Amin Amuli dan lain-lainnya.

[5] . Lihat kitab Al-Irsyâd, karya Syeikh Mufid, I’lâmul Warâ bi A’lâinil Huda, karya Thabarsi dan Ensiklopedia Bihâr Al-Anwâr, karya Majlisi, dan Enseklopedia Rasulullah saw. karya Sayid Muhsin Khatami akhir-akhir ini.

[6] . Lihat buku Târikh Al-Qurân, karya Zanjani, al-Tamhid fil Ulumil Qurân, karya Muhammad Hadi Ma’rifat dan sumber-sunber lainnya.

[7] . Lihat Al-Ghadir karya Allamah Amini, yang dinukil dari sumber-sumber Islam di bidang Tafsir dan Sejarah.

[8] . Lihat, Khulafa An-Nabi, karya Al-Haa’iry Al-Bahrani).

[9] . Lihat Yaqut wa Jawâhir , karya Sya’rani Al-Anshori Al-Mishri.

[10] . Lihat shahih Bukhori dan shahih Muslim, dan Sunan Baihaqi, sedangkan pendapat mazhab Maliki, bisa dilihat dari buku Bidayatul Mujtahid, karya Ibnu Rusdy Al-Qurthubi Al-Maliki dan buku-buku lainnya.

[11] . Lihat kitab-kitab Sunan dan Musnad, juga lihat tafsir Fakhrurazi dalam menafsirkan ayat wudhu.

[12] . Lihat hadis-hadis mut’ah dalam kitab-kitab Shahih, Sunan dan Musnad yang otentik menurut mazhab-mazhab Islam.

[13] . Doa-doa ini ada dalam ensiklopedia dengan judul ensiklopedia doa-doa sempurna, yang diterbitkan akhir-akhir ini. Sebagaimana juga termuat dalam buku-buku doa yang sudah ada di tengah-tengah mereka yang sudah terkenal, seperti; Mafatihul Jinan, Muntakhab Husainiah dll.

[14] . Syifa As-Saqâm, karya Subhi Asyafi’I hal. 107 dan Sunan Ibn Majah jilid 1, hal. 117.

[15] . Lihat buku-buku pembahasan khumus dengan dalil-dalilnya dalam pandangan fuqaha Syi’ah.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More